JAWABAN SOAL FINAL TES EVALUASI PEMBELAJARAN SEJARAH

Jawaban FINAL TES Evaluasi Pembelajaran Sejarah:

1.  A. Tabel kisi- kisi prestasi belajar siswa:

No

Pokok Bahasan

No Soal

Kategori Kognitif

Jumlah

C1

C2

C3

C4

C5

C6

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

1

Peradaban lembah sungai Nil

01

02

03

04

05

06

07

08

09

10

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

Jumlah

3

2

2

1

1

1

10

Keterangan :

C1 :       Pengetahuan

C2 :       Pemahaman

C3 :       Penerapan

C4 :       Analisis

C5 :       Sintesis

C6 :       Evaluasi

Alat ukur prestasi belajar siswa diambil dan dikembangkan dari Kurikulum 2004 dan bersumber  dari buku sejarah nasional Indonesia dan umum SMA untuk kelas X terbitan Erlangga dari pokok bahasan :

  1. Peradaban lembah sungai Nil

B. Soal-soal :

  1. Peradaban lembah sungai Nil terletak di benua…..
  2. Disebut apakah tulisan bangsa Mesir kuno yang berupa gambar-gambar segala macam makhluk hidup dan perlengkapan hidupnya…
  3. Raja pertama dari zaman kerajaan Mesir tua yaitu…
  4. Apakah yang dimaksud dengan Polytheisme…
  5. Obelisk adalah sebuah tugu batu yang didirikan oleh masyarakat Mesir yang digunakan untuk ….
  6. A. Fir’aun Ahmosis J                      D. Fir’aun Thutmosis III
  1. Mesir               c.  Afrika                      e.  Amerika
  2. Asia                 d.  India
  1. Pictograph        c.  Epictograph e.  Heliograph
  2. Hieroglyph        d.  Holigraph
  1. Fir’aun Ahmosis           c.  Fir’aun Amenhotep  e.  Fir’aun Menes
  2. Fir’aun Thutmosis         d.  Fir’aun Pepi
  1. Percaya dan memuja satu dewa
  2. Percaya dan memuja patung
  3. Percaya dan memuja matahari
  4. Percaya dan memuja banyak dewa
  5. Percaya dan memuja hewan-hewan yang dianggap suci
  1. memuja dewa Amon-Ra (Dewa Bulan)
  2. memuja dewa Thot (dewa pengetahuan)
  3. Memuja dewa Seth (dewa penguasa kegelapan)
  4. Memuja dewa Apis (dewa berwujud binatang)
  5. Memuja dewa Zeus

B. Fir’aun Menes                            E. Fir’aun Aroenhotep II

C. Fir’aun Sesostris III                   F. Fir’aun Pepi I

Dari nama-nama raja Mesir diatas, yang merupakan raja Mesir pada zaman kerajaan Mesir baru, yaitu….

  1. A,B dan C                    c.  A, B, dan E             e.   A, D, dan E
  2. D, E dan F                   d.  A, B, dan F
  1. A. Arca                              C. Piramuda                 E. Limes

B. Spink                             D. Obelisk                    F. Pantheon

Bangunan-bangunan diatas yang bukan merupakan peninggalan banga Mesir kuni adalah …

  1. Arca, Spink dan Piramida                     d. Spink, Piramida dan Obelisk
  2. Arca, Limes dan Pantheon                    d.  Spink, Piramida dan Pantheon
  3. Spink, Limes dan Pantheon
  1. Factor apa saja yang melatarbelakangi majunya peradaban Mesir kuno, salah satunya yakni…
  2. Disebut apakah bilamana masyarakat Mesikor kuno tidak percata dan memuja banyak dewa….
  1. Tanah yang tandas
  2. Tanah yang berlumpur
  3. Curah hujan yang tinggi
  4. Penduduk yang padat
  5. Lahan yang luas
  1. Polyheisme                   c.  Trilotheisme e.  Dinamisme
  2. Monotheisme                d.  Animisme

10.  Sumbangan apa yang diberikan masyarakat Mesir yang tak ternilai harganya bagi perkembangan ilmu pengetahuan…

  1. Abjad                           c.  nomor                      e.  Rumus
  2. angka                           d.  Harta

2. Validitas dan Reliabilitas soal diatas:

No Nama

Skor Item

Skor total Genap-Ganjil Genap- ganjil XY
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 X Y
1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

A
B
C

D

E

F

G

H

I

J

1

1

1

0

1

1

1

1

0

1

0

0

1

1

1

0

1

0

0

1

1

1

1

0

1

1

0

1

1

0

0

1

1

0

1

0

1

11

0

1

1

0

1

1

0

1

1

0

0

1

0

1

1

0

1

1

01

1

0

0

0

0

0

1

1

1

1

1

00

1111

0

1

0

1

1

1110

1

1

11

0

1

1

1

1

1

0

0

0

1

1

6

6

8

6

7

6

7

7

6

6

4

3

3

2

3

4

4

5

3

2

2

3

5

4

4

2

3

2

3

4

16

9

9

4

9

16

16

25

9

4

4

9

25

16

16

4

9

4

9

4

8

9

15

8

12

8

12

10

9

8

33 32 117 112 99

rXY= NΣXY – (ΣX) (ΣY)

√{NΣX² – (ΣX)²}{NΣY² – (ΣY)²}

= 10.99 – (33) (32)

√{10.117 – (33)²}{10.112 – (32)²}

= 990 – 1056

√{1170 – 1089}{1120 – 1024}

= - 66

√{81}{96}

= - 66

√7776

= - 66

88,18

= – 0,7

r11= 2 r ½ ½

1+ (r  ½ ½)

= 2.- 0,7

1+ (0,7)

= - 1,4

1,7

= – 0,82

Add comment Juni 18, 2009 ismawardah

JAWABAN FINAL TES PENGATAR ANTROPOLOGI

Jawaban Final tes Pengantar Antropologi:

1. Memindai personality dibangun atas pilar pengetahaun, perasaan, dan nauluri dalam tindakan manusia:

Manusia merupakan makhluk yang berakal yang organismenya ditentukan oleh pengetahuan, perasaan, dan dorongan naluri. Dari tiga pilar; pengetahuan, perasaan, dan naluri dapat dibentuk cara berpikir seseorang, cara bertindak seseorang dan cara bertinkah lauknya, sehingga dapat terbentuk pola-pola yang baik maupun buruk mengenai berbagai macam hal yang berbeda-beda dalam lingkungan individu sesorang tersebut.

2. Tiga wujud kebudayaan terpindai pada kebudayaan suatu masyarakat:

  • Gagasan (Wujud ideal)
    Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.
  • Aktivitas (tindakan)
    Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.
  • Artefak (karya)
    Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud kebudayaan.

Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.

3. Konsep migrasi, akulturasi, dan asimilasi, dalam memahamai masyarakat Banjar:

Migrasi adalah peristiwa berpindahnya suatu organisme dari suatu bioma ke bioma lainnya. Dalam banyak kasus, organisme bermigrasi untuk mencari sumber-cadangan-makanan yang baru untuk menghindari kelangkaan makanan yang mungkin terjadi karena datangnya musim dingin atau karena overpopulasi. Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri. Asimilasi adalah pembauran dua kebudayaan yang disertai dengan hilangnya ciri khas kebudayaan asli sehingga membentuk kebudayaan baru. Suatu asimilasi ditandai oleh usaha-usaha mengurangi perbedaan antara orang atau kelompok. Untuk mengurangi perbedaan itu, asimilasi meliputi usaha-usaha mempererat kesatuan tindakan, sikap, dan perasaan dengan memperhatikan kepentingan serta tujuan bersama.

Masyarakat banjar adalah masyarakat yang tingkat sosialnya tinggi. Masyarakat banjar sangat ramah dan terbuka terhadap banyaknya macam ras pendatang dari daerah di luar Kalimantan Selatan. Masyarakat pendatang dari daerah lain disambut dengan lapang dada dan menganggap mereka tidak ada perbedaannya dengan masyarakat banjar sendiri. Masyarakat banjar juga dapat menerima berbagai macam kebudayaan masyarakat pendatang dan menghargai kebudayaan masyarakat pendatang tersebut. Masyarakat tidak jarang menampilkan kebudayaan yang dating, namun masih diselingi dengan kebudayaan banjar sendiri dan masih menonjolkan ciri khas masyarakat banjar. Misalkan saja dalam pakaian pengantin banjar sekarang: baju perempuannya menyerupai kebaya, tapi diselingi dengan asesoris cirri khas masyarakat banjar.

4. Tidak diragukan lagi, Indonesia adalah negara dengan sumberdaya alam melimpahruah, tetapi bagaiamana kita memahami dalam pandangan kaji kebudayan, kekayaan SDA tersebut tidak menjadikan masyarakat mendapatkan tingkat kemakmuran memadai, karena bangsa Indonesia sudah terbiasa atau sudah menjadi budaya Indonesia sejak masa colonial penjajahan bangsa Barat, kurang bias untuk mengekplor SDA yang berlimpah ruah tersebut. Bangsa Indonesia mempunyai semboyan asalkan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti makan, pakaian, tempat tinggal dan yang harta yang lebih tidak diperlukan lagi. Dan alas an utamanya, karena masyarakat Indonesia cenderung pemalas dan kurang berani mengambil resiko gagal dalam melakukan sesuatu.

5. Ditinjau dai kajian Teori Kebudayaan, penyebab pokok para guru susah melakukan penemuan-penemuan, dan atau, penerapan penemuan-penemuan baru dalam pembaharuan pendidikan, yaitu:

a. Para guru cenderung malas melakukan penemuan baru

b. Para guru takut gagal akan penemuan baru tersebut

c. para guru takut menanggung resiko di caci atau di hina kalau penemuan- penemuannya jelek.

Add comment Juni 17, 2009 ismawardah

SEKOLAH GRATIS

SEKOLAH MASIH TETAP MAHAL

(Kebijakan “Pendidikan Gratis 9 Tahun dari Pemerintah Republik Indonesia Tidak Berjalan Lancar)

Pada era reformasi seperti sekarang ini, kita sebagai bangsa Indonesia tidak perlu jauh-jauh lagi untuk mengenyam pendidikan yang sudah sepantasnya kita terima. Bukan hanya di kota-kota besar saja terdapat sekolah-sekolah (SD, SMP, MTs, SMA, MA, SMK) dan Perguruan Tinggi (Universitas) negeri dan swasta, serta kursus-kursus (lembaga pendidikan) yang dapat dijadikan tempat untuk mengenyam pendidikan yang layak. Tapi sekarang di kabupaten-kabupaten juga sudah banyak terdapat tempat-tempat mengenyam pendidikan dan bahkan di desa-desa terpencil yang susah dijangkau juga sudah disediakan oleh pemerintah sekolah-sekolah, walaupun terbatas hanya sampai SMP saja. Hal ini menampakkan bahwa pemerintah Indonesia baik pusat ataupun daerah sudah berupaya semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan bangsa Indonesia akan pendidikan yang layak sebagaiman dijelaskan dalam Pembukaan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang mengamanatkan:

a)        Pemerintah Negara Republik Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

b)        Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu Sistem Pendidikan Nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang.

Pemerintah pusat yang didukung oleh pemerintah daerah bukan hanya berupaya untuk memenuhi pendidikan-pendidikan yang layak dan sudah sewajarnya diterima oleh bangsa Indonesia. Seperti menyediakan fasilitas-fasilitas (gedung-gedung sekolah, kursi, bangku, buku-buku pelajaran dan perlengkapan yang menunjang proses pembelajaran  lainnya), guru-guru, dan menentukan kurikulum. Pada tahun 2009 pemerintah mengeluarkan kebijakan bahwa Pendidikan 9 Tahun (Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Pertama) digratiskan. Kebijakan pendidikan gratis ini diambil oleh pemerintah bertujuan supaya semua anak-anak (bangsa Indonesia), baik yang kaya ataupun yang miskin dapat memperoleh dan merasakan pendidikan secara merata, serta diharapkan seluruh bangsa Indonesia tidak ada lagi yang buta aksara (tidak bisa membaca) dan bangsa Indonesia tidak mudah dihasut oleh bangsa lain. Akan tetapi kebijakan “Pendidikan Gratis 9 Tahun” bagi sekolah-sekolah negeri yang diambil oleh pemerintah tidak berjalan lancar. Karena banyak sekolah-sekolah negeri di Indonesia yang kualitasnya dianggap lebih baik daripada sekolah swasta masih memungut iuran-iuran (biaya-biaya), seperti iuran masuk ke sekolah-sekolah tersebut atau disebut juga uang pangkal yang biasanya berjumlah cukup besar yang berkisar lebih dari Rp. 100.000,- dan bahkan di sekolah-sekolah negeri favorit uang pangkal yang harus dibayar orangtua  atau wali siswa-siswi mencapai Rp. 1.000.000,-. Khusus di sekolah-sekolah negeri yang tergolong favorit, biasanya diterapkan tes dan standar nilai beberapa mata pelajaran sebagai persyaratan dapat masuk sekolah-sekolah negeri favorit ini. Jika merekacalon siswa-siswi  tidak dapar memenuhi persyaratan, maka mereka bisa melalui jalur khusus yaitu dengan membayar uang pangkal (biaya masuk) yang lebih besar dan biasanya berkisar di atas Rp. 1.000.000, bahkan ada berkisar Rp.5.000.000, iuran-iuran tersebut sangat memberatkan bagi orangtua atau wali dari siswa-siswi yang tergolong tidak mampu (golongan bawah), walaupun iuran (biaya) bulanan tidak dipungut lagi. Selain iuran-iuran tersebut, di sekolah-sekolah yang ada di Indonesia, baik sekolah-sekolah negeri ataupun sekolah-sekolah swasta biasanya mengharuskan kepada siswa-siswinya untuk memiliki LKS (Lembar Kerja Siswa) semua mata pelajaran guna menunjang proses belajar-mengajar yang berlangsung di sekolah. Di samping, itu sekolah-sekolah swasta juga bahkan jauh lebih besar daripada iuran-iuran yang ditetapkan sekolah-sekolah negeri.

Dengan masih dipungutnya masih dipungutnya iuran-iuran (biaya-biaya) pendidikan tersebut, menyebabkan tidak semua orangtua atau wali murid mampu menyekolahkan anaknya sampai ke jenjang yang lebih tinggi, bahkan sampai Perguruan Tinggi. Hanya orang-orang kaya dan orang-orang yang mampu saja yang dapat menyekolahkan anak-anak mereka sampai Perguruan Tinggi. Sedangkan orang-orang miskin tidak mampu untuk menyekolahkan anak mereka, jangankan menyekolahkan sampai Perguruan Tinggi sampai sekolah lulus SMP saja mereka tidak mampu. Hal ini karena pendidikan masih tetap dianggap mahal, walapun ada kebijakan dari pemerintah sekarang (di bawah Presiden Susilo Bambang Yudoyono) mengenai Pendidikan Gratis 9 Tahun. Semua ini tidak ada bedanya dengan pendidikan pada masa kolonial Belanda, bangsa pribumi yang boleh bersekolah hanyalah anak-anak dari golongan kaki tangan Belanda. Padahal semua bangsa Indonesia itu berhak untuk mendapatkan pendidikan yang layak, sebagaimana dipaparkan dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada bab IV Hak dan kewajiban wrga Negara orangtua, masyarakat dan pemerintah pasal 5 ayat 1 “setiap warga Negara mempunyai hak yang sama untuk memperolah pendidikan yang bermutu. Jadi pendidikan di Indonesia harus gratis sepenuhnya bukan hanya gratis dari biaya bulanan saja, tetapi jug biaya-biaya pendaftaran (uang pangkal) dan biaya-biaya lain dihapuskan. Pemerintah juga harus menindak lanjuti yaitu dengan member sanksi kepada bagi sekolah negeri yang masih memungut biaya-biaya tersebut dan menjual LKS kepada siswa. Pemerintah juga harus mengeluarkan dana yang lebih besar lagi bagi pendidikan. Guna terpenuhinya tujuan Negara Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Republik Indonesia yang terdapat dalam batang tubuh UUD 1945.

Referensi :

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Departemen Pendidikan Republik Indonesia. Jakarta ; 2003.

Add comment Mei 15, 2009 ismawardah

Sejarah

TUMBUH DAN PERKEMBANGANNYA ORGANISASI KOMUNIS

(PKI) DI INDONESIA

A. Awal dari Tumbuhnya Ideologi Komunis di Indonesia

Pada tahun 1913 (menjelang Perang Dunia I), seorang aktivis politik yang berhaluan Marxis berkebangsaan Belanda yang bernama H. J. F. M Sneevliet tiba di Hindia Belanda dari negeri Belanda. Sesampai di Indonesia, ia pada mulanya bekerja sebagai staf redaksi sebuah surat kabar milik sindikat perusahaan gula di Jawa Timur, lalu menjadi sekretaris di Semerangsche Handels Vereninging. Pada saat itu Sneevliet berhasil menanamkan pengaruhnya kedalam organisasi Vereniging Van Spoor en Tramsweg Personeel (VSTP) dan membawanya kearah aktivitas-aktivitas yang radikal yang menyebarluaskan marxisme di Hindia Belanda, antara lain melalui surat kabar VTSP “Devolhasding (Keyakinan)”. Selanjutnya, pada tahun 1914 bersama J.A. Brandsteder, H.W.Dekker dan P. Bergsma, Sneevliet mendirikan organisasi marxis yang pertama di Asia Tenggara dengan nama Indische social Demonratische Vereniging (ISDV) yang berhaluan sosialis (komunis). ISDV berhasil menerbitkan majalah Het Vrije Woord (Suara kebebasan) di Surabaya setahun kemudian sebagai media propaganda Marxisme. Tulisan-tulisan ini menyebarluaskan paham marxisme yang berhaluan sosialis bukan hanya di kalangan diantara merek saja, tapi menyebar ke masyarakat. Bahkan ISDV menyebarkan pengaruhnya ke dalam Sarekat Islam (SI) dengan cara memasukan anggota ISDV menjadi anggota SI dengan sistem “ Keanggotaan Rangkap” (anggota ISDV boleh menjadi anggota SI, begitu juga sebaliknya). Sehingga pada tahun 1917, Sneevliet dan kawan-kawannya telah mempunyai pengaruh yang kuat dikalangan anggota SI. Hal ini menjadikan kedudukan ISDV menjadi makin kuat dan pengaruh komunis makin merajalela di Hindia Belanda, terutama setelah kepemimpinan ISDV diambil alih Semaoen dan Darsono yang berhasil mememcah-belahkan SI.

B. PEMBERONTAKAN KOMUNIS PADA TAHUN 1926

Setelah berhasil menanamkan pengaruhnya di dalam tubuh SI yang cukup besar, maka PKI mulai memanfaatkan pengaruhnya untuk menggerakkan organisasi masa rakyat dengan menggunakan bendera SI untuk melakukan pergolakan fisik melawan pemerintah Hindia Belanda. Upaya PKI ini berhasil mencetuskan pergolakan diberbagai tempat, yaitu pada 12-14 Nopember 1926 di Kerisidenan Jakarta,12 Nopmever sampai 5 Desember  di Banten, 12-18 Nopember 1926 di Priangan, 17-23 Nopember 1926 di Surakarta, 12 Nopember -15 Desmber 1926 di Kediri dan 1 januari-28 Februari 1927 di Silungkang (Sumatera Barat). Namun Pergolakan ini dapat diatasi oleh pemerintah Hindia Belanda dan banyak tokoh komunis-nasionalis yang ditangkap dan di penjarakan, bahkan ada yang dibuang Ke Digul tanah merah (Irian Jaya).

C. Pemberontakan Komunis (PKI) Pada tahun 1948

Di awal tahun 1948, gerakan komunisme mulai gencar dilakukan kembali dengan mendatangkan kembali Muso dan Suripno yang kemudian melakukan pemberontakan di daerah Madiun. Pada 1 september 1948 Comite Central Partai Komunis Indonesia (CC PKI) yang pertama dibentuk dengan Muso sebagai ketua PKI menggantikan Sardjono, sedangkan Politbiro dan MR. Amir Syarifuddin diangkat menjadi sekretaris urusan pertahanan. Selanjutnya para tokoh komunis gencar mengadakan aksi-aksi untuk mendisikreditikan pemerintah Republik Indonesia dan Moso didepan rakyat banyak senantiasa menggembor-gemborkan janji-janji muluk PKI, sedangkan para pegawai pemerintah yang bukan tokoh PKI dijadikan sasaran terornya (Nasution, 1992;21). Aksi-aksi kerusuhan yang dilakukan oleh PKI pada tahun 1948 berikutnya yaitu di Solo, dengan diwarnai aksi penculikan, terror bersenjata dan bahkan pembunuhan. Salah satu korban yang dibunuh yaitu Kolonel Soetarto dan dr. Mawardi di pimpinan barisan banteng yang tidak setuju dengan rencana pemberontakan PKI. Akhirnya, pada 18 September 1948 pukul 03.00 ketika perhatian TNI dan pemerintah RI terpusat ke masalah di Solo, dimulailah pemberontakan PKI di Madiun yang ditandai dengan tiga kali tembakan pistol (Nasution, 1992;22). Akan tetapi, pemberontakan ini dapat di tumpas oleh pasukan TNI pada tanggal 30 September 1948 dan kota Madiun dikuasai pemerintahan RI kembali. Pada tanggal 4 Desember 1948, Pimpinan PKI “MUSO” ditembak mati, lalu beberapa minggu kemudian Mr. Amir, Suripni dan petinggi PKI lainnya juga ditembak mati.

D. Pemberontakan Partai Komunis melalui gerakan 30 September

Setelah pemberontakan PKI pada 30 September 1948 berhasil ditumpaskan dan para pemimpinya banyak yang ditembak mati oelh TNI, organisasi komunis (PKI) masih dibiarkan hidup di Indonesia, walaupun dukungan rakyat telah berkurang dan ada beberapa tokoh pemimpin PKI yang masih hidup. Hal ini menguntungkan PKI, lalu PKI langsung berupaya kembali menyusup ke tubuh TNI (ABRI) dan beberapa tokoh PKI juga mulai berhasil menjadi anggota cabinet pemerintahan RI dibawah Soekarno lewat ide nasakom (nasionalis, agama dan komunis) pada tahun 1962. pada tahun 1965 PKI berupaya melakukan pemberontakan kembali tepatnya pada 30 September 1965. Dalam pemberontakan ini dibentuk biro khusus PKI untuk menjalankan 2 tahap yaitu 1) menyingkirkan para pentinggi AD (Angkatan Darat), lalu menggantinya dengan anggota dari PKI dan merebut pemerintahan RI, serta mengganti dasar Negara Pancasila dan UUD 1945 dengan ajaran komunis (Sodiq Mustafa, 2004:86). Dalam aksi penculikan yang dilakukan oleh PKI pada 1 Oktober 1965 berhasil diculik beberapa petinggi AD, diantaranya Letjen TNI A.Yani, Mayjen TNI (Soeprapto, Mayjen TNI S.Parman, Mayjen TNI Haryono M.T, Berigjen TNI Sutoyo. S, dan Brigjen TNI D.I Pandjaitan, sedangkan jenderal TNI A.H.Nasution berhasil lolos dari aksi penculikan ini. Keenam orang petinggi AD yang berhasil diculik dibawa ke lubang buaya dikalibata. Disini mereka disiksa, dibunuh dan kemudian dibuang kedalam sumur. Untuk menghilangkan jejak, sumur tersebut ditimbun dengan tanah dan sampah, lalu diatasnya ditanami pohon pisang.

E. Penumpasan Aksi Pemberontakan Partai Komunis (PKI) melalui gerakan 30 September

Setelah mengetahui aksi penculikan PKI terhadap beberapa orang petinggi AD, pangkostrad Mayjen TNI Soeharto berkeyakinan bahwa gerakan PKI bertujuan untuk menggulingkan dan merebut kekuasaan dari pemerintah R.I. bersadasarkan keyakinannya ini, Soeharto menggerakan personil markas kostrad dan satuan lainnya di Jakarta yang kontra terhadap PKI. Pada tanggal 1 Oktober 1965 pukul 17.20 studi RRI berhasil di kuasai oleh pasukan RPKAD dibawah pimpinan Soeharto dan kantor besar telkom juga dikuasai. Setelah Soeharto langsung menyampaikan berita tentang pemberontakan PKI dan pembunuhan terhadap beberapa orang petinggi AD. Pada 3 Oktober 1965 setelah mendengar kabar dari Soeharto, presiden Soekarno memberi tugas kepada Soeharto untuk memulihkan keamanan dan ketertiban RI dan Soeharto diangkat sebagai panglima operasi pemulihan keamanan dan ketertiban. Karena merasa keamanan dan ketertiban RI masih terancam bayang-bayang komunis, maka pada tanggal 11 Maret 1966 dikeluarkan surat keputusan yang disebut “Supersemar” oleh Presiden Soekarno yang isinya menyerahkan tampuk kekuasaan RI kepada Soeharto demi keamanan dan keutuhan Negara Republik Indonesia.

Sumber :

  1. Gerakan 30 September ( Pemberontakan Partai Komunis Indonesia). 1994. Sekretariat Negara Republik Indonesia; Jakarta.
  2. Sodiq Mustafa, dkk. 2004. Sejarah untuk Kelas 3 SMA dan MA. Tiga Serangkai; Solo.

Add comment Mei 15, 2009 ismawardah

Sejarah

TUMBUH DAN PERKEMBANGANNYA ORGANISASI KOMUNIS

(PKI) DI INDONESIA

A. Awal dari Tumbuhnya Ideologi Komunis di Indonesia

Pada tahun 1913 (menjelang Perang Dunia I), seorang aktivis politik yang berhaluan Marxis berkebangsaan Belanda yang bernama H. J. F. M Sneevliet tiba di Hindia Belanda dari negeri Belanda. Sesampai di Indonesia, ia pada mulanya bekerja sebagai staf redaksi sebuah surat kabar milik sindikat perusahaan gula di Jawa Timur, lalu menjadi sekretaris di Semerangsche Handels Vereninging. Pada saat itu Sneevliet berhasil menanamkan pengaruhnya kedalam organisasi Vereniging Van Spoor en Tramsweg Personeel (VSTP) dan membawanya kearah aktivitas-aktivitas yang radikal yang menyebarluaskan marxisme di Hindia Belanda, antara lain melalui surat kabar VTSP “Devolhasding (Keyakinan)”. Selanjutnya, pada tahun 1914 bersama J.A. Brandsteder, H.W.Dekker dan P. Bergsma, Sneevliet mendirikan organisasi marxis yang pertama di Asia Tenggara dengan nama Indische social Demonratische Vereniging (ISDV) yang berhaluan sosialis (komunis). ISDV berhasil menerbitkan majalah Het Vrije Woord (Suara kebebasan) di Surabaya setahun kemudian sebagai media propaganda Marxisme. Tulisan-tulisan ini menyebarluaskan paham marxisme yang berhaluan sosialis bukan hanya di kalangan diantara merek saja, tapi menyebar ke masyarakat. Bahkan ISDV menyebarkan pengaruhnya ke dalam Sarekat Islam (SI) dengan cara memasukan anggota ISDV menjadi anggota SI dengan sistem “ Keanggotaan Rangkap” (anggota ISDV boleh menjadi anggota SI, begitu juga sebaliknya). Sehingga pada tahun 1917, Sneevliet dan kawan-kawannya telah mempunyai pengaruh yang kuat dikalangan anggota SI. Hal ini menjadikan kedudukan ISDV menjadi makin kuat dan pengaruh komunis makin merajalela di Hindia Belanda, terutama setelah kepemimpinan ISDV diambil alih Semaoen dan Darsono yang berhasil mememcah-belahkan SI.

B. PEMBERONTAKAN KOMUNIS PADA TAHUN 1926

Setelah berhasil menanamkan pengaruhnya di dalam tubuh SI yang cukup besar, maka PKI mulai memanfaatkan pengaruhnya untuk menggerakkan organisasi masa rakyat dengan menggunakan bendera SI untuk melakukan pergolakan fisik melawan pemerintah Hindia Belanda. Upaya PKI ini berhasil mencetuskan pergolakan diberbagai tempat, yaitu pada 12-14 Nopember 1926 di Kerisidenan Jakarta,12 Nopmever sampai 5 Desember  di Banten, 12-18 Nopember 1926 di Priangan, 17-23 Nopember 1926 di Surakarta, 12 Nopember -15 Desmber 1926 di Kediri dan 1 januari-28 Februari 1927 di Silungkang (Sumatera Barat). Namun Pergolakan ini dapat diatasi oleh pemerintah Hindia Belanda dan banyak tokoh komunis-nasionalis yang ditangkap dan di penjarakan, bahkan ada yang dibuang Ke Digul tanah merah (Irian Jaya).

C. Pemberontakan Komunis (PKI) Pada tahun 1948

Di awal tahun 1948, gerakan komunisme mulai gencar dilakukan kembali dengan mendatangkan kembali Muso dan Suripno yang kemudian melakukan pemberontakan di daerah Madiun. Pada 1 september 1948 Comite Central Partai Komunis Indonesia (CC PKI) yang pertama dibentuk dengan Muso sebagai ketua PKI menggantikan Sardjono, sedangkan Politbiro dan MR. Amir Syarifuddin diangkat menjadi sekretaris urusan pertahanan. Selanjutnya para tokoh komunis gencar mengadakan aksi-aksi untuk mendisikreditikan pemerintah Republik Indonesia dan Moso didepan rakyat banyak senantiasa menggembor-gemborkan janji-janji muluk PKI, sedangkan para pegawai pemerintah yang bukan tokoh PKI dijadikan sasaran terornya (Nasution, 1992;21). Aksi-aksi kerusuhan yang dilakukan oleh PKI pada tahun 1948 berikutnya yaitu di Solo, dengan diwarnai aksi penculikan, terror bersenjata dan bahkan pembunuhan. Salah satu korban yang dibunuh yaitu Kolonel Soetarto dan dr. Mawardi di pimpinan barisan banteng yang tidak setuju dengan rencana pemberontakan PKI. Akhirnya, pada 18 September 1948 pukul 03.00 ketika perhatian TNI dan pemerintah RI terpusat ke masalah di Solo, dimulailah pemberontakan PKI di Madiun yang ditandai dengan tiga kali tembakan pistol (Nasution, 1992;22). Akan tetapi, pemberontakan ini dapat di tumpas oleh pasukan TNI pada tanggal 30 September 1948 dan kota Madiun dikuasai pemerintahan RI kembali. Pada tanggal 4 Desember 1948, Pimpinan PKI “MUSO” ditembak mati, lalu beberapa minggu kemudian Mr. Amir, Suripni dan petinggi PKI lainnya juga ditembak mati.

D. Pemberontakan Partai Komunis melalui gerakan 30 September

Setelah pemberontakan PKI pada 30 September 1948 berhasil ditumpaskan dan para pemimpinya banyak yang ditembak mati oelh TNI, organisasi komunis (PKI) masih dibiarkan hidup di Indonesia, walaupun dukungan rakyat telah berkurang dan ada beberapa tokoh pemimpin PKI yang masih hidup. Hal ini menguntungkan PKI, lalu PKI langsung berupaya kembali menyusup ke tubuh TNI (ABRI) dan beberapa tokoh PKI juga mulai berhasil menjadi anggota cabinet pemerintahan RI dibawah Soekarno lewat ide nasakom (nasionalis, agama dan komunis) pada tahun 1962. pada tahun 1965 PKI berupaya melakukan pemberontakan kembali tepatnya pada 30 September 1965. Dalam pemberontakan ini dibentuk biro khusus PKI untuk menjalankan 2 tahap yaitu 1) menyingkirkan para pentinggi AD (Angkatan Darat), lalu menggantinya dengan anggota dari PKI dan merebut pemerintahan RI, serta mengganti dasar Negara Pancasila dan UUD 1945 dengan ajaran komunis (Sodiq Mustafa, 2004:86). Dalam aksi penculikan yang dilakukan oleh PKI pada 1 Oktober 1965 berhasil diculik beberapa petinggi AD, diantaranya Letjen TNI A.Yani, Mayjen TNI (Soeprapto, Mayjen TNI S.Parman, Mayjen TNI Haryono M.T, Berigjen TNI Sutoyo. S, dan Brigjen TNI D.I Pandjaitan, sedangkan jenderal TNI A.H.Nasution berhasil lolos dari aksi penculikan ini. Keenam orang petinggi AD yang berhasil diculik dibawa ke lubang buaya dikalibata. Disini mereka disiksa, dibunuh dan kemudian dibuang kedalam sumur. Untuk menghilangkan jejak, sumur tersebut ditimbun dengan tanah dan sampah, lalu diatasnya ditanami pohon pisang.

E. Penumpasan Aksi Pemberontakan Partai Komunis (PKI) melalui gerakan 30 September

Setelah mengetahui aksi penculikan PKI terhadap beberapa orang petinggi AD, pangkostrad Mayjen TNI Soeharto berkeyakinan bahwa gerakan PKI bertujuan untuk menggulingkan dan merebut kekuasaan dari pemerintah R.I. bersadasarkan keyakinannya ini, Soeharto menggerakan personil markas kostrad dan satuan lainnya di Jakarta yang kontra terhadap PKI. Pada tanggal 1 Oktober 1965 pukul 17.20 studi RRI berhasil di kuasai oleh pasukan RPKAD dibawah pimpinan Soeharto dan kantor besar telkom juga dikuasai. Setelah Soeharto langsung menyampaikan berita tentang pemberontakan PKI dan pembunuhan terhadap beberapa orang petinggi AD. Pada 3 Oktober 1965 setelah mendengar kabar dari Soeharto, presiden Soekarno memberi tugas kepada Soeharto untuk memulihkan keamanan dan ketertiban RI dan Soeharto diangkat sebagai panglima operasi pemulihan keamanan dan ketertiban. Karena merasa keamanan dan ketertiban RI masih terancam bayang-bayang komunis, maka pada tanggal 11 Maret 1966 dikeluarkan surat keputusan yang disebut “Supersemar” oleh Presiden Soekarno yang isinya menyerahkan tampuk kekuasaan RI kepada Soeharto demi keamanan dan keutuhan Negara Republik Indonesia.

Sumber :

  1. Gerakan 30 September ( Pemberontakan Partai Komunis Indonesia). 1994. Sekretariat Negara Republik Indonesia; Jakarta.
  2. Sodiq Mustafa, dkk. 2004. Sejarah untuk Kelas 3 SMA dan MA. Tiga Serangkai; Solo.

Add comment Mei 15, 2009 ismawardah

jawaban midle tes evaluasi pembelajaran sejarah

  1. Perbedaan mendasar antara tes, pengukuran, dan evaluasi :

Tes adalah suatu tugas atau seperangkat tugas yang direncanakan untuk memperoleh informasi tentang trait atau atribut pendidikan atau psikologik yang setiap butirnya mempunyai jawaban atau ketentuan yang dianggap benar.

Pengukuran adalah proses pengumpulan data melalui pengamatan empiris. Proses pengumpulan ini dilakukan untuk menaksir apa yang telah diperoleh siswa setelah mengikuti pelajaran selama waktu tertentu. Proses ini dapat dilakukan dengan mengamati kinerja mereka, mendengarkan apa yang mereka katakan serta mengumpulkan informasi yang sesuai dengan tujuan melalui apa yang telah dilakukan siswa.

Evaluasi adalah ) merupakan proses yang sistematis tentang mengumpulkan, menganalisis dan menafsirkan informasi untuk menentukan sejauhmana tujuan pembelajaran telah dicapai oleh siswa.

Perbedaan antara tes, pengukuran dan evaluasi:

Tes hanya sebagai media digunakan untuk memperoleh skor dari seorang yang kita uji, dengan ketentuan salah dan benar serta dapat memberikan informasi kualitatif maupun kuantitatif. Dan pengukuran digunakan untuk mengkategorikan seseorang masuk dalam kelompok tertentu yang diperoleh dari hasil tes. Sedangkan evaluasi dapat memberikan nilai tentang kualitas sesuatu secara menyeluruh dan menentukan kelulusan seseorang dalam satu hal.

2. Kaitan antara tujuan, bahan, metode pembelajarn dengan evaluasi, yaitu tujuan pengajaran yang hendak dicapai di sekolah mempunyai kaitan dengan bahan yang hendak diberikan dan metode belajar-mengajar yang dipakai guru dalam proses belajar mengajar dan sejauh mana keberhasilan guru memberikan materi dan sejauh mana murid menyerap materi yang disajikan itu dapat diperoleh informasinya dengan evaluasi.

3. Instrumen adalah perangkat ‘ilmiah’ untuk menentukan berhasi atau tidak, teracapai atau tidak dan terlaksana atau tidak rangkaian pendidikan atau tujuan pembelajaran. Instrumen juga diartikan sebagai alat untuk mengukur kemampuan seseorang biasanya berbentuk soal. Baik soal tersebut berbentuk pilihan ganda, uraian dan memasangkan atau mencocokan.

Pra-syarat yang dilalui oleh instrument sebelum sebelum instumen diberlakukan tes:

    1. Menetapkan tujuan tes ( tujuan yang ingin di capai)
    2. Validitas (soal yang akan diujikan bisa mengukur apa yang ingin diukur)
    3. Realibilitas (hasil nilainya sama atau tidak begitu jauh, bila soal tersebut diujikan lebih satu kali kepada satu siswa dikelas yang sama)
    4. Praktikabilitas (mudah dilaksanakan)
    5. Ekonomis (dalam menyelenggarakan tes hendaknya tidak menggunakan banyak biaya ( tidak mahal) bagi guru atau bagi murid)

4. Praktik UN SMP/MT,SMA/MA dimana hanya sebagian saja mata pelajaran yang diujikan sementara yang lainnya diabaikan, kira-kira bagaimana logika evaluatifnya Praktik UN SMP/MT-SMA/MA dimana hanya sebagian saja mata pelajaran yang diujikan sementara yang lainnya diabaikan, logika evaluatifnya, berarti sia-sia saja selama 6 tahun (jika di SD) dan 3 tahun (jika di SMP dan SMA) mempelajari mata pelajaran yang tidak di UAN kan tersebut. Dan juga menurut saya pemerintah itu seakan tidak punya pendirian, karena mereka sendiri yang menentukanj dan membuat kurikulum mata pelajaran yang di ajarkan di sekolah (SD, SMP, SMA) dan malah mereka menentukan cuma beberapa mata pelajaran yang di UAN kan. Menurut saya lebih baik pemerintah menetapkan kurikulum yang isinya cuma beberapa mata pelajaran yang di UAN kan itu saja.

5. Dalam prinsip evaluasi ada lima faktor yang menjadi penentu:

    1. Keterpaduan
    2. Keterlibatan Siswa
    3. Koherensi
    4. Pedagogis
    5. Akuntabilitas

Dalam kasus dari soal tersebut dapat disimpulkan bahwa penilaian dilakukan tanpa memuat faktor keterlibatan siswa, karena siswa diatas hanya memenuhi persyaratan nilai akademis yang memuaskan saja tidak melihat faktor keterlibatan siswa selama kegiatan pembelajaran.

Add comment April 15, 2009 ismawardah

JAWABAN MIDLE TES ANTROPOLOGI

Jawaban soal middle tes Antropologi:

1. Tujuan Saya mempelajari antropologi yaitu:

Tujuan utama: untuk memenuhi kredit mata kuliah yang harus di ambil untuk bias menjadi seorang sarjan pendidikan sejarah. Alamanfaat pratisnya

Tujuan lainnya: untuk mempelajari tentang antropologi, apa saja yang di bahas dalam antropologi. Antropologi juga merupakan sebagai ilmu bantu dalam sejarah.

2. 4 fase perkemabangan antropologi menurut Koentjara Ningrat beserta cirinnya masing-masing:

Fase Pertama (Sebelum tahun 1800-an)

Sekitar abad ke-15-16, bangsa-bangsa di Eropa mulai berlomba-lomba untuk menjelajahi dunia. Mulai dari Afrika, Amerika, Asia, hingga ke Australia. Dalam penjelajahannya mereka banyak menemukan hal-hal baru. Mereka juga banyak menjumpai suku-suku yang asing bagi mereka. Kisah-kisah petualangan dan penemuan mereka kemudian mereka catat di buku harian ataupun jurnal perjalanan. Mereka mencatat segala sesuatu yang berhubungan dengan suku-suku asing tersebut. Mulai dari ciri-ciri fisik, kebudayaan, susunan masyarakat, atau bahasa dari suku tersebut. Bahan-bahan yang berisi tentang deskripsi suku asing tersebut kemudian dikenal dengan bahan etnografi atau deskripsi tentang bangsa-bangsa. Bahan etnografi itu menarik perhatian pelajar-pelajar di Eropa. Kemudian, pada permulaan abad ke-19 perhatian bangsa Eropa terhadap bahan-bahan etnografi suku luar Eropa dari sudut pandang ilmiah, menjadi sangat besar. Karena itu, timbul usaha-usaha untuk mengintegrasikan seluruh himpunan bahan etnografi.

Fase Kedua (tahun 1800-an)

Pada fase ini, bahan-bahan etnografi tersebut telah disusun menjadi karangan-karangan berdasarkan cara berpikir evolusi masyarakat pada saat itu. masyarakat dan kebudayaan berevolusi secara perlahan-lahan dan dalam jangka waktu yang lama. Mereka menganggap bangsa-bangsa selain Eropa sebagai bangsa-bangsa primitif yang tertinggal, dan menganggap Eropa sebagai bangsa yang tinggi kebudayaannya. Pada fase ini, Antopologi bertujuan akademis, mereka mempelajari masyarakat dan kebudayaan primitif dengan maksud untuk memperoleh pemahaman tentang tingkat-tingkat sejarah penyebaran kebudayaan manusia.

Fase Ketiga (awal abad ke-20)

Pada fase ini, negara-negara di Eropa berlomba-lomba membangun koloni di benua lain seperti Asia, Amerika, Australia dan Afrika. Dalam rangka membangun koloni-koloni tersebut, muncul berbagai kendala seperti serangan dari bangsa asli, pemberontakan-pemberontakan, cuaca yang kurang cocok bagi bangsa Eropa serta hambatan-hambatan lain. Dalam menghadapinya, pemerintahan kolonial negara Eropa berusaha mencari-cari kelemahan suku asli untuk kemudian menaklukannya. Untuk itulah mereka mulai mempelajari bahan-bahan etnografi tentang suku-suku bangsa di luar Eropa, mempelajari kebudayaan dan kebiasaannya, untuk kepentingan pemerintah kolonial.

Fase Keempat (setelah tahun 1930-an)

Pada fase ini, Antropologi berkembang secara pesat. Kebudayaan-kebudayaan suku bangsa asli yang di jajah bangsa Eropa, mulai hilang akibat terpengaruh kebudayaan bangsa Eropa.Pada masa ini pula terjadi sebuah perang besar di Eropa, Perang Dunia II. Perang ini membawa banyak perubahan dalam kehidupan manusia dan membawa sebagian besar negara-negara di dunia kepada kehancuran total. Kehancuran itu menghasilkan kemiskinan, kesenjangan sosial, dan kesengsaraan yang tak berujung.Namun pada saat itu juga, muncul semangat nasionalisme bangsa-bangsa yang dijajah Eropa untuk keluar dari belenggu penjajahan. Sebagian dari bangsa-bangsa tersebut berhasil mereka. Namun banyak masyarakatnya yang masih memendam dendam terhadap bangsa Eropa yang telah menjajah mereka selama bertahun-tahun. Proses-proses perubahan tersebut menyebabkan perhatian ilmu antropologi tidak lagi ditujukan kepada penduduk pedesaan di luar Eropa, tetapi juga kepada suku bangsa di daerah pedalaman Eropa seperti suku bangsa Soami, Flam dan Lapp.

3. Secara esensial dan obyektif perbedaan antara pattern of behavior dengan pattern of action :
kelakuan manusia pada khususnya yaitu yang di tentukan oleh naluri, dorongan-dorongan , reflek-reflek atau kelakuan yang lepas dari akal dan jiwanya sedangkan pattern of action itu berupa tindakan-tindakan yang sudah terakamodir dan tidak terakamodir yang ketika menghadapi permasalahan-permasalahan.

4. 3 pilar utama yang menentukan kepribadian:

Pengetahuan adalah unsur-unsur yang mengisi akal dan alam jiwa seorang manusia yang sadar, secara nyata terkandung dalam otaknya. Setiap individu manusia yang dalam keadaan sadar tentunya akan memiliki pengetahuan. Pengetahuan yang dimaksud adalah segala hal atau pemikiran yang yang ada dalam otak manusia. Pengetahuan ditimbulkan oleh rasa ingin tahu yang dimiliki manusia akan kondisi yang ada di sekitarnya sehingga ia bisa mengatasi kondisi tersebut demi keberlangsungan hidupnya.

Perasaan adalah suatu keadaan dalam kesadaran manusia yang karena pengaruh pengetahuannya dinilai sebagai keadaan positif atau negatif.Jadi perasaan yang dimiliki oleh manisia itu yang dipengaruhi oleh pengetahuannya akan terbentuk dalam suatu bentuk nilai yaitu positif dan negatif.

Persaan merupakan suatu unsur dari kepribadian yang dimiliki oleh manusia.Perasaan yang dimiliki oleh manusia terdiri dari berbagai macam perasaan. Akan tetapi perasaan yang dimiliki oleh manusia juga bisa terjadi setiap saat dalam kehidupnya.

Naluri

Naluri adalah sesuatu keinginan/ dorongan yang memang sejak dilahirkan ke dunia sudah dimiliki oleh setiap makhluk hidup. Tanpa memiliki naluri makhluk hidup tidak dapat menjalani kehidupannya dengan sewajarnya.

5. Wujud kebudayaan merupakan suatu sistem dari suatu ide-ide dan konsep-konsep dari wujud kebudayaan sebagai suatu rangkaian tindakan dan aktivitas manusia yang berpola. Wujud kebudayaan terdiri dari sistem budaya, sistem sosial, dan wujud fisik.

1. Wujud yang paling utama adalah wujud ideal dari kebudayaan sebagai suatu kompkleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma peraturan dan sebagainya. wujud ini adalah wujud ideal dari kebudayaan. Disebutkan bahwa wujud kebudayaan ini adalah sistem budaya karna gagasan dan pikiran tersebut tidak merupakan kepingan-kepingan yang terlepas, melainkan saling berkaitan berdasarkan asas-asas yang erat hubungannya sehingga menjadi sistem gagasan dan pikiran yang relatif mantap dan berkelanjutan. Sifatnya abstrak, tidak dapat di raba atau di foto.
2. Wujud kedua sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat. Wujud ini merupakan wujud kebudayaan yang di sebut sistem sosial.Sistem sosial ini tidak dapat melepaskan diri dari sistem budaya.

3. Wujud kebudayaan yang ketiga sebagai benda-benda hasil karya manusia. Wujud ini merupakan wujud kebudayaan sebagai wujud fisik dan tidak memerlukan banyak penjelasan. Aktivitas manusia yang saling berinteraksi tidak lepas dari berbagai pengguna peralatan sebagai hasil karya manusia untuk mencapai tujuannya.

Add comment April 15, 2009 ismawardah

Sejarah Pendidikan Indonesia

PENDIDIKAN BUMIPUTERA

PADA MASA HINDIA BELANDA

(1800-1900)

Latar Belakang

Belanda merupakan salah satu dari bangsa barat yang pernah menjajah Indonesia, bahkan lama waktunya hampir setengah abad. Pada akhir abad ke – 16 Belanda pertama kali sampai di Indonesia. Pada masa pemerintahannya Belanda, disamping mengeksploitasi Sumber Daya Alam Indonesia, bangsa Belanda juga memberikan pendidikan untuk bangsa Indonesia. Pendidikan dapat diartikan sebagai bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si Pendidik terhadap perkembangan Jasmani dan Rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama (Abd Rafik, 1983 ; 1).

Dalam makalah ini hanya dibicarakan pendidikan bagi pribumi (pendidikan bumi Putera) pada masa Hindia Belanda, mulai dari perkembangan pendidikan bumi putera itu sendiri, kurikulum yang diterapkan, fasilitas dan buku pelajaran yang digunakan, dan guru-guru yang menjadi tenaga pengajar di sekolah-sekolah bumi Putera.

Perkembangan Pendidikan Bumi Putera Pada Masa Hindia Belanda (1800-1900)

Setelah runtuhnya kongsi dagang Belanda VOC (Verenigde Onst Indische Compagny) dan terpaksa gulung tikar pada bulan desember 1799. Pemerintah hindia Belanda kemudian menggantikan kedudukan VOC di Indonesia yang beawal sejak tahun 1800. Pemerintah Belanda mengutus gubernur Jenderal Daendels untuk menjalankan pemerintahan di Indonesia. Deandles memerintah dengan kekerasan dengan dalih untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dari Indonesia. Dalam bidang pendidikan, boleh dikatakan Daendels juga menaruh perhatian terhadap pendidikan, namun hasilnya tidak banyak tampak (Najamuddin, 2005 ; 3). Deandels mencoba memberikan ide baru bagi pendidikan yaitu perlu adanya pengajaran rakyat sehingga pengajaran tidak terbatas pada golongan bangsa Eropa dan Pemeluk agama Kristen saja seperti yang telah dijalankan pada masa VOC. Pada masa pemerintahannya, Daendels berusaha memajukan pendidikan bagi pribumi dengan memerintahkan pada tahun 1808 bahwa regen-regen dijawa bagian utara dan timur harus mendirikan sekolah atas biaya sendiri untuk mendidik anak-anak mematuhi adat dan kebiasaan sendiri, suatu tindakan yang tidak merugikan perbendaharaan pemerintah (Nasution, 1995 ; 10). Namun sebelum selesai dengan usahanya Deandels ditarik kembali ke Belanda.

Pada tahun 1811, gubernur jenderal Raffles diutus ke Indonesia untuk menggantikan kedudukan Deandels. Pada masa Pemerintahannya, Raffles kurang berminat terhadap pendidikan dan pengajaran, perhatiannya hanya banyak ditunjukan untuk penelitian-penelitiannya hanya banyak ditujukan penelitian-penelitian terhadap kebudayaan di Indonesia, sehingga Raffles berhasil menyusun buku yang berkenaan dengan kebudayaan Hindu dijawa yang diberi nama “History of java atau sejarah Tanah Jawa” (Najamuddin, 2005 ; 4). Dibawah pemerintahan Raffles ini kondisi pendidikan di Indonesia mengalami, kemunduran yang cukup drastis, setelah Belanda tidak diduduki oleh Inggris lagi, pemerintahan di Indonesia di Pegang kembali oleh hindia Belanda pata tahun 1816. pemerintah hindia Belanda berupaya memperbaiki sistem pendidikan di Indoensia. Pada masa VOC yang berakhir dengan kegagalan sepenuhnya.

Pemerintahan baru yang dijalankan Hindia Belanda ini menerapkan sistem liberalisme (aliran Aufklarung atau Englightenment) yang percaya bahwa pendidikan merupakan alat untuk mencapai kemajuan ekonomi dan sosial. Demi menjalankan politiknya bagaimanapun pemerintah Hindia Belanda harus mendidik dan mengajar golongan atas penduduk untuk tugas-tugas pemerintahan dalam negeri. Demikian juga demi kepentingan ekonominya, Belanda harus mendidik dan mengajar lapisan bawah penduduk bumiputera (Sri Soetjiatingsih, 1981 : 99). Namun selama hampir setengah abad ke – 18 awal pemerintah Hindia belanda tidak menyediakan satu sekolah pun bagi anak-anak Indonesia dengan alasan untuk menghormati bumi putera. Alasan lainnya ialah kesulitan financial yang dihadapi pemerintah Belanda dengan Belgia (1830 – 1839) yang sangat menguras banyak uang dan menelan banyak korban. Kesulitan keuangan ini menyebabkan raja Belanda meningalkan prinsip-prinsip liberal dan menerima rencana yang dianjurkan oleh Van den Bosch yaitu penerapan Culturstellsel (Tanam Paksa). Menurut sistem tanam pungutan tidak lagi berupa uang tetapi berupa hasil tanaman yang dapat diekspor (Sartono, 1993 ; 306). Dengan menerapkan sistem tanam paksa ini akan lebih menguntungkan pemerintah Hindia Belanda. Sistem tanam paksa ini membutuhkan tenaga bumiputera yang sangat banyak sebagai pegawai rendahan yang murah untuk menjaga agar perkebunan pemerintah berjalan lancar. Pegawai ini, yang sedapatnya dipilih dari anak-anak kaum ningrat yang telah mempunyai kekuasaan tradisional yang menjamin keberhasilan perusahaan ini, harus diberi pendidikan (Nasutin, 1995 ; 12).

Pada 18 September 1848, hanya beberapa bulan setelah Nederland menjadi negara hukum. Raja Belanda mengeluarkan keputusan yang menyetujui adanya anggaran khusus untuk pendidikan Bumi Putera. Jumlah biaya yang pernah ditaksir oleh Reynst ternyata turun separonya dalam keputusan itu. Raja Belanda menetapkan “agar mengambil 25.000 gulden setahunnya dari APBN Hindia Belanda sebagai biaya mendirikan sekolah bagi bumi putera, yang secara khusus bertujuan mendidik calon pejabat (Simbolon, 1995 ; 193). Serat keputusan ini menjadi titik awal dimulainya pendidikan bagi rakyat pribumi dengan dibangunnnya sebanyak 20 buah sekolah bagi bumiputera. Pada mulanya. Sekolah-sekolah bumiputera hanya ada terbatas di Pulau Jawa dan Madura, terlebih setelah keluarnya keputusan pemerintah hindia Belanda Pada 30 Agustus 1851 yang isinya menyatakan bahwa pembangunan sekolah keresidenan untuk bumiputera dihentikan sampai guru yang terlatih (untuk menjadi guru di sekolah Bumi Putera) tercukupi. Namun keputusan ini tidak digubris di luar Jawa dan Madura. Pada 1851, Pemerintah daerah untuk pantai Barat Sumatera segera mendirikan sekolah-sekolah bumi putera yang sama dengan biaya lebih tinggi. Pada tahun 1853, Pemerintah daerah di Sulawesi Selatan juga mendirikan sekolah yang serupa, tepatnya dibangun di Maros (Simbolon, 1995 ; 195). Pada tahun 1854, pemerintah hindia Belanda menginstruksikan gumber Jenderal untuk mendirikan sekolah untuk anak-anak pribumi ditiap kabupaten, namun anggaran biayanya masih tetap dibatasi sebanyak 25.000 golden.

Pada tahun 1863 atas desakan Fransen Van Der Putte akhirnya Raja Belanda memberikan kesempatan kepada bangsa pribumi untuk mendapat pendidikan sepenuhnya. Pembatasan peraturan pemerintah pada 30 September 1984 dihapuskan dan dana pendidikan yang semula hanya 25.000 gulden dinaikkan menjadi 35.000 gulden pertahun. Jumlah sekolah dasar pada tahun 1864 dari yang semula hanya 186 buah ditambah menjadi 512 buah. Disamping itu sudah ada keleluasaan bagi bumi putera untuk memasuki sekolah Belanda (Najamuddin, 2005; 10). Pada tahun 1893 pemerintah, Belanda mengadakan pembagian lapisan sekolah bagi bumiputera ke dalam 2 bagian:

1) Sekolah Kelas I

Sekolah yang diperuntukkan bagi anak-anak pemuka dan orang-orang terhormat bumiputera atau putera-putera bangsawan tinggi, yang membutuhkan pengajaran yang dapat membawa kejenjang lebih tinggi.

2) Sekolah Kelas II

Sekolah bagi anak-anak penduduk pribumi pada umumnya, yang hanya diberi pengajaran yang sederhana, yang penting dapat membaca, menulis dan berhitung (Sri Soetjiatingsih, 1981; 101).

Pembagian ini, dilakukan pemerintah Hindia Belanda guna mengkotak-kotakan bangsa pribumi, agar bangsa pribumi tidak bersatu dan berusaha memberi perlawanan terhadap Hindia Belanda.

Kurikulum

Kurikulum yang diterapkan pada pendidikan bumiputera meliputi mata pelajaran:

1. Mata pelajaran wajib : membaca, menulis, bahasa (daerah atau melayu) dan berhitung

2. Mata pelajaran tambahan : Geometri, geografi, pecahan, dan system desimal.

3. Mata pelajaran untuk :

Kelas tertinggi

§ Pengetahuan alam, fisika, botani, biologi, etnologi dan menggambar

§ Pertanian, diberikan untuk pengawasan perkebunan

§ Mengukur tanah (kadaster) untuk pegawai perkebunan pemerintah. Namun mata pelajaran ini pada tahun 1911 dihapuskan.

Kurikulum biasanya direncanakan oleh komisi sekolah setempat dengan bantuan guru dan disetujui oleh inspektur. Bahasa pengantar adalah bahasa daerah atau bahasa melayu. Pada sekolah bumiputera, agama 1984 yang menyatakan bahwa semua pengajaran agama dilarang disekolah pemerintah. (Nasution, 1995 ; 37). Lama pendidikan untuk sekolah kelas I berlangsung 5 tahun dan sekolah kelas II berlangsung hanya 3 tahun.

Fasilitas dan Buku Pelajaran

1. Fasilitas

Bangunan sekolah bumiputera dipulau Jawa ditempatkan berdekatan dengan rumah Bupati, agar bangunannya bisa terpelihara dengan baik. Sedangkan diluar Jawa, bangunan sekolah bumiputera kurang mendapat perhatian dan tidak mendapat bantuan dari pemerintah pusat, karenanya bangunan terlampau kecil, kurang adanya penerangan dan ventilasi, lembat dan bocor. Bahkan ada pula daerah yang hanya memiliki gedung sekolah yang masih sederhana sekali, seperti gubuk beratab nipah dan berdinding bambu, tanpa meja dan bangku tempat duduk (Najamuddin, 2005; 10-11).

2. Buku Pelajaran

Buku Pelajaran yang dipakai pada sekolah bumiputera yaitu:

§ Kitab Edja dan Batja oleh F.A. Luitjes yang diterbitkan pada tahun 1891 dan terdiri atas 23 halaman. Buku ini digunakan dengan tujuan agar anak dapat mempelajari huruf lalu mengkombinasikannya, yang akan menghasilkan kata-kata, lalu menjadi kalimat.

§ Buku bacaan yang ditulis oleh L.K. Harmsen kitab Akan Dibatja yang berisi cerita-cerita dari Seribu Satu Malam, Hitopadesa dan fabel-fabel Yunani. Buku ini digunakan untuk yang sudah lancar membaca agar mengerti tentang moral.

§ Buku yang ditulis Van Duyn digunakan untuk belajar tulisan Arab.

Guru- Guru

Sebelum adanya tamatan sekolah guru yang diangkat menjadi guru adalah orang yang bersedia mengajar dan bisa membaca, menulis dan berhitung (Najamuddin, 2005; 13). Kebanyakan bekas Mantri, gudang dan juru tulis. Setelah tahun 1889, guru yang mengajar di sekolah bumiputera dbedakan menjadi:

1) Guru yang berwenang penuh yang merupakan lulusan sekolah guru.

2) Guru melalui ujian tanpa menempuh sekolah guru.

3) Guru Bantu melalui ujian guru Bantu.

4) Calon guru atau magang.

5) Guru darurat.

Penerimaan dan Jumlah Murid

1. Murid Menurut Jenis Kelamin

Dihitung dalam persentase jumlah murid wanita 0,2% (1877), 0,45% (1888) dan 0,76% (1892)

2. Penerimaan Murid Menurut Kebangsaan

Pada tahun1892 sebanyak 504 anak laki-laki dan 5 anak perempuan di Jawa dan 1.019 anak laki-laki dan 86 anak perempuan di luar Jawa.

3. Penerimaan Murid Menurut Kedudukan Sosial

Pada tahun 1888 sejumlah 5.824 atau 16% dari murid adalah aristokrasi dan pegawai yang dipandang sebagai priayi sedangkan 84% dari anak-anak berasalm dari golongan orang biasa. Di luar Jawa perbedaan antara kaum ningrat dan orang biasa tidak begitu nyata, bahkan seting sukar untuk membedakan kedua golongan itu, pada tahun 1888 di luar Jawa 2.423 murid atau hanya kira-kira 9% dari seluruh populasi sekolah berasal dari golongan atas.

Kesimpulan

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda di Indonesia, pendidikan bagi bumiputera kurang diperhatikan, bahkan hampir tidak terdapat sekolah pribumi pada pertengahan awal abad ke-29. pada 18 September 1948, raja Belanda untuk pertama kali menyetujui adanya anggaran untuk pendidikan bumiputera yaitu sebesar 25.000 gulden pertahun. Walaupun pemerintah Hindia Belanda berusaha untuk menghambat pendidikan bumiputera, pada tahun 1864 jumlah sekolah bumiputera yang semula hanya 186 buah berkembang menjadi 512 buah. Kurikulum yang digunakan meliputi empat mata pelajaran wajib (membaca, menulis, bahasa daerah atau melayu dan berhitung serta dilarangnya pengajaran agama. Bangunan yang digunakan cenderung kurang memadai dan terawat, bahkan didaerah-daerah terdapat sekolah yang tidak menggunakan meja dan kursi. Sedangkan buku yang digunakan salah satunya “Kitab Edja dan Batja” yang ditulis F.A.Luitjes untuk belajar huruf-huruf. Guru-guru yang mengajar di sekolah bumiputera dibedakan menjadi 5, yaitu guru lulusan sekolah guru, guru bukan lulusan sekolah guru, guru Bantu, calon guru (magang) dan guru darurat. Penerimaan jumlah murid berdasarkan jenis kelamin, kebangsaan, dan menurut kedudukan sosial.

Dari uraian pembahasan sebelumnya dapat dikatakan bahwa kesempatan bangsa Indonesia untuk memperoleh pendidikan pada masa Hindia Belanda sangatlah dibatasi. Pendidikan yang diberikan kepada bangsa kita bukan untuk mendidik dan mencerdaskan, tetapi hanya untuk memenuhi tuntutan kebutuhan bangsa Belanda akan pegawai rendahan yang hanya diupah murah. Sehingga keuntungan Belanda makin besar.

Sumber

Nasution, M.A, Prof. Dr. Sejarah Pendidikan Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara, 1995.

Abdul Rafik Drs. Sejarah Pendidikan Indonesia, Surabaya: Ekspress, 1983.

Najamuddin, Drs. H. Perjalanan Pendidikan Di Tanah Air (Tahun 1800-1945) Jakarta: Rineka Cipta, 2005.

T. Simbolon, Parakitri, Menjadi Indonesia, Jakarta: KOMPAS, 1995.

Sri Soetjiatingsih, Dra. Sejarah Pendidikan Daerah Jawa Timur, Jawa Timur: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, 1981.

Sartono Kartodirdjo, Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900 (Dari Emperium Sampai Imporium) Jilid I, Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 1993.

Add comment April 4, 2009 ismawardah

ETNOGRAFI BANJAR

FOLKLORE ORANG BANJAR

Kata Folklore merupakan pengindonesiaan dari bahasa Inggris” Folklore. Kata tersebut merupakan kata majemuk yang berasal dari dua kata dasar yakni Folk dan Lore.

Menurut Alan Dundes kata Folk artinya sekelompok orang yang memiliki cirri-ciri fisik, social dan kebudayaan, sehingga dapat dibedakan dari kelompok –kelompok lainnya. Ciri pengenal itu, diantaranya baik berupa warna kulit, bentuk rambut, mata pencaharian, bahasa, taraf pendidikan dan agama yang sama. Sedangkan menurut kamus bahasa inggris- Indonesia, kata Lore artinya adat ( kebiasaan / tradisi) dan pengetahuan atau gambaran tradisi yang dimiliki oleh folk.

Menurut kamus besar bahasa indonesia ( Debdikbud, Balai pustaka, tahun 1990 ), folklore adalah adat istiadat yang diwariskan secara turun temurun, tetapi tidak dibukukan.

Jadi, dapat ditarik kesimpulan Folklore berarti adat (kebiasaan / tradisi) dan pengetahuan atau gambaran tradisi yang dimiliki oleh sekelompok orang yang memiliki cirri-ciri fisik, social dan kebudayaan, sehingga dapat dibedakan dari kelompok –kelompok lainnya. Ciri pengenal itu, diantaranya baik berupa warna kulit, bentuk rambut, mata pencaharian, bahasa, taraf pendidikan dan agama yang sama yang diwariskan secara turun temurun, tapi tidak dibukukan.

Menurut Koentjaraningrat ( dalam bukunya “ Pengantar Ilmu Antropologi”), setiap unsure kebudayaan universal tersebut mempunyai tuga wujud , yakni :

1. Wujud system budaya , berupa gagasan kepercayaan, nilai-nilai norma ilmu pengetahuan dan lain-lain.

2. Wujud system social berupa tindakan social, perilaku yang berpola seperti : upacara, kebiasaan, tata cara dan lain sebagainya.

3. Wujud kebudayaan fisik

Cara pengenalan folklor yang membedakanya dengan sebuah kebudayaan:
-
Penyebaran dan pewarisannya biasanya dilakukan secara lisan
- Folklore bersifat tradisonal
- folklore memiliki banyak versi bahkan variasi yang sangat berbeda


Seoran ahli dari Amerika Serikat “Jan Harold Brunvand” membagi folklore dalam tiga kelompok besar, yatiu:
1. Folklore lisan adalah folklore yang bentuknya murni lisan.
2. Folklor sebagian lisan adalah folklore yang bentuknya merupakan campuran

unsur lisan dan bukan lisan.
3. Folklor bukan lisan adalah folklor yang bentuknya selain bentuk lisan walaupun

cara pembuatannya di ajarkan secara lisan.
Perkembangan Folklore tidak hanya terbatas pada para golongan petani desa saja tetapi juga para nelayan, pedagang, peternak dan golongan.

Folklore orang banjar yaitu adat (kebiasaan / tradisi) dan pengetahuan atau gambaran tradisi yang dimiliki oleh masyarakat banjar yang memiliki ciri-ciri tersendiri, baik fisik, social dan kebudayaan yang dapat membedakan antara masyarakat banjar ( asli) dengan masyarakat bukan banjar ( asli ), yang diwariskan secara turun temurun, dari masa lampau hingga seakarang dan tidak dibukukan.

Folkore orang banjar tebagi atas, folkore lisan dan folklore non-lisan:

  1. Folklor Banjar Lisan
    1. Hikayat banjar

Menurut Gazali Usman (dalam bukunya ”Urang Banjar dalam Sejarah” Thn 1989 hal. 22), hikayat banjar adalah sebuah manuskrip tua yang telah dikenal di daerah kalimantan selatan dari zaman ke zaman kerajaan banjar. Salah satu hikayat banjar yang sangat terkenal yaitu hikayat putri junjung buih dan pangeran Suryanata. Dalam buku karangannya “ urang Banjar Dalam Sejarah “Drs. A. Gazali Usmar, menyatakan bahwa putri junjung buih dan Pangeran Suryanata merupakan lambang dari kepercayaan kaharingan yakni percaya ada serba dua mengenai alan yaitu membagi alam menjadi dua bagian, alam atas dan alam bawah.

1. Putra junjung buih adalah penguasa alam bawah atau jatap sebagai sebutan harian, ia ditemukan oleh patih lambung mangkurat disungai pada saat ia (patih lambung mangkurat) bertapa Lalu putri junjung buih dijadikan raja di kerajaan diva.

2. Pangeran Suryanata adalah sebenarnya nama local yang disanskertakan. Dalam bahasa Ngaju nama itu adalah raja Tongtong Matandau, kemarohan Tambing kebantaran Bulan yang artinya pangeran matahari atau surya raja bulan atau pangeran matahari, Suryanata atau “ pangeran yang di pertuan matahari”, merupakan wisnu atau penguasa alam atas.

Menurut kepercayaan suku dayak maanyan dan dayak ngaju putri junjung buih mewakili penghuni alam bawah, seperti buaya putih, naga, tambun (sejenis gajah mina), manglung. Binatang-binatang tersebut dipercaya memiliki suatu roh yang mempunyai kekuatan gaib ( kuat ), sehingga banyak masyarakat banjar yang memberi sesaji berupa nasi ketan, berbagai kue, ayam dan lain-lain. Mereka berasumsi bahwa mereka memelihara hewan-hewan tersebut. Sedangkan Pangeran Suryanata mewakili penghuni alam atas, diantaranya burung Elang. Burung Elang dipercaya memiliki suatu roh yang mempunyai kekuatan gaib ( kuat ), Sehingga masyarakat dayak maanyan dan dayak nagaju mempunyai kebiasaan adat memberi makan elang, dengan menaruh beras di tempat yang tinggi.

    1. Bahasa banjar

Menurt kamus besar bahasa Indonesia, bahasa banjar adalah bahasa daerah kalimantan selatan yang dipergunakan oleh suku banjar. Beberapa kata-kata dalam bahasa banjar untuk kata ganti orangberdasarkan tingkatannya:

1)  Ulun = Saya ; ( Sam) Piyan/ ( an), dika = Kamu –>( halus )

2) Aku, diyaku = aku ; Ikam, kawu = kamu –>( netral / sepadan)

3) Unda, sorang =aku ; Nyawa = kamu –> ( agak kasar )

2. Folklore Banjar Non- Lisan

a. Rumah Banjar

Rumah banjar adalah rumah tradisional suku banjar yang

berasitektur

tradisional dengan ciri-ciri mempunyai perlambang,

mempunyai penekanan

pada atap, oriental dekoratif dan simetris.

b. Pakaian adat banjar

Pakai adat masyarakat banjar berupa pakaian kurung yang

identik dengan warna kuning.

c. Kerajinan tangan khas banjar

Kerjinan khas banjar yang terkenal yaitu berupa kain

sasirangan yang dibuat dengan cara di celup.

Rujukan :

1) Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi .PT. Rineka Cita . JakartaL: 2002

2) Drs. A. Gazali Usman, Urang Banjar Dalamn Sejarah, Lambung Mangkurat University Press, Banjarmasin:1989

3) John M. Echols Dan Hassan Shadilly, Kamus Inggris – Indonesia, PT GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA, Jakarta : 2003.

4) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balaipustaka, Jakarta; 1990.

5) Debdikbud, Hikayat Banjar, Museum Lambung Mangkurat, Banjarbaru; 1981.

Add comment Maret 11, 2009 ismawardah

RPP

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP)

SMA/MA. : ………………………………………………..

Program : Ilmu Pengetahuan Sosial

Mata Pelajaran : Sejarah

Kelas/Semester : XI/II

Standar Kompetensi : Memahami Peristiwa Proklamasi Kemerdekaan RI

Kompetensi Dasar : Memahami Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Indikator : Siswa dapat menjelaskan isi dari perundingan Linggarjati.

Alokasi Waktu : 1 x 15 menit (1 x Pertemuan)

A. Tujuan Pembelajaran

Peserta didik mampu untuk: dapat memahami proklamasi kemerdekaan RI.

B. Materi Pembelajaran

Perjuangan diplomasi bangsa indonesia melalui perjanjian linggar jati.

C. Metode Pembelajaran

· Ceramah

· Pemberian tugas rumah

D. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran

1. Kegiatan Awal ( 5 menit )

· Salam

· Presensi

Mendata siswa yang hadir

· Apersepsi
Guru membuka pembelajaran dengan memberikan pertanyaan “Melalui apa saja perjuangan bangsa indonesia untuk mempertahankan kedaulatan Indonesia ?”.

2. Kegiatan Inti ( 7 menit )

· Guru menyampaikan tujuan pembelajaran

· Guru menjelaskan upaya bangsa indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan Indoneia terutama pada jalur diplomasi yakni perjanjian linggar jati.

3. Kegiatan Akhir ( 3 menit )

· Bersama-sama menarik kesimpulan materi dari penjelasan yang diberikan.

· Guru memberikan pekerjaan rumah kepada siswa

E. Alat dan Sumber Belajar

A. Alat Belajar

· Papan tulis dan Spidol

B. Sumber Belajar

· Kurikulum KTSP / Silabus 2006

· Buku Paket Sejarah Kelas 2 SMA

· LKS Sejarah SMA Kelas 2 semester Genap

F. Penilaian

Teknik : Tes tertulis

Bentuk Instrumen :

- Tes Isian

Kriteria Penilaian

Kriteria Indikator

Nilai Kualitatif

Nilai Kuantitatif

80-100

Memuaskan

4

70-79

Baik

3

60-69

Cukup

2

45-59

Kurang cukup

1

Aspek penilaian:

a. Ketepatan jawaban

b. Penulisan jawaban

c. Kerjasama dalam kelompok

d. Ketepatan waktu penyerahan

hasil/jawaban.

Banjarmasin, …………

Mahasiswa

ISMAERDAH

NIM : A1A106036

Pekerjaan Rumah

Jawablah titik-titik dengan jelas dan benar!

1. Dalam perundingan linggarjati inggris bertindak sebagai pemimipin dan penengah. Pihak inggris dipimpin oleh…

2. Salah satu isi perjanjian linggarjati ialah Belanda mengakui secara de facto wilayah ri atas…

3. Delegasi Indonesia yang membubuhkan tandatangan terhadap hasil persetujuan linggarjati adalah…

4. Setelah Belanda mengakui wilayah de fecto RI, beberapa Negara segera menyampaikan pengakuan atas kedaulatan RI. Negara-negara itu antara lain ialah…

5. Hasil persetujuan linggarjati disikapi pro dan kontra di kalangan…

Kunci jawaban

1. Lord Killearn

2. Jawa, Madura, dan Sumatera

3. Sutan Syahrir, Mr. Moh. Roem, Mr. Soesanto Tirtoprojo, dan dr. A.K.Ghani.

4. Inggris, Amerika Serikat, Mesir Lebanon, Suriah, Afganistan, Birma ( Myanmar), Saudi Arabia, Yaman, Rusia, Pakistan, dan India.

5. anggota KNIP.

Penjabaran materi pelajaran

Perundingan Linggarjati 25 Maret 1947

Kedatangan Sekutu di Indonesia yang diboncengi NICA berakibat timbulnya pertempuran di berbagai daerah. Setelah lebih dari satu tahun berdinas di Indonesia, Inggris mengambil kesimpulan bahwa sengketa Indonesia-Belanda tidak mungkin diselesaikan lewat kekuatan senjata. Pihak Inggris kemudian berusaha mempertemukan kedua belah pihak yang bersengketa. Perundingan gencatan senjata pertama antara Indonesia, Sekutu, dan Belanda diselenggarakan di Jakarta pada 20-30 September 1946. perundingan ini tidak mencapai hasil yang diharapkan. Inggris kemudian mencoba mempertemukan kembali pihak-pihak yang bertikai dengan mengirim diplomat, Lord Killearn. Utusan Inggris ini berhasil membawa wakil-wakil Indonesia dan Belanda ke meja perundingan di Jakarta pada tanggal 7 Oktober 1946. delegasi Indonesia diketuai Perdana Menteri Sutan Syahrir, sedangkan delegasi Belanda dipimpin Prof. Schermerhorn.

Perundingan tersebut menghasilkan persetujuan berisi :

a) Diberlakukannya gencatan senjata antara Indonesia, Belanda, dan Inggris, serta.

b) Dibentuk sebuah komisi Bersama Gencatan Senjata untuk mengawasi pelaksanaan genjatan senjata.

Atas dasar perundingan tersebut, sejak 24 Oktober 1946 pasukan sekutu (Inggris dan Austarlia) mulai mengosongkan daerah-daerah yang didudukinya. Secara berangsur-angsur pasukan sekutu di tarik dari Bogor, Palembang, Medan, dan Padang. Pada akhir November 1946, seluruh pasukan sekutu telah meninggalkan Indonesia. Sebagai kelanjutan perundingan sebelumnya, pada 10-15 November 1946 dilangsungkan perundingan di Linggarjati, dekat Cirebon.

Perundingan ini menghasilkan keputusan sebanyak 17 pasal yang oada pokoknya berisi sebagai berikut. :

1. Belanda mengakui secara de fecto Republik Indonesia dengan wilayah kekuasaan yang meliputi Sumatera, Jawa, dan Madura.

2. Republik Indonesia dan belanda akan bekerja sama membentuk Negara Indonesia serikat dengan nama republic Indonesia serikat yang salah satu bagiannya adalah republik Indonesia.

3. RepubliK Indonesia serikat dan belanda akan membuat Uni Indonesia-Belanda dengan Ratu Belanda sebagai ketuanya.

Hasil persetujuan Linggarjati ditandatangani wakil-wakil Indonesia dan Belanda di Istana Rijswijk (sekarang istana merdeka) pada 25 Maret 1947. dele3gasi Indonesia yang membubuhkan tandatangan tersebut ialah Sutan Syahrir, Mr.Moh Roem, Mr. Soesanto Tirtoprojo, dan dr. A.K. Gani. Dari belanda ialah Prof. Schermerhorn, Dr. van Mook, dan van Poll. Peristiwa ini disaksikan tokoh penengah dari Inggris, Lord Killearn. Setelah Belanda mengakui wilayah de facto RI, beberapa Negara segera menyampaikan pengakuan atas kedaulatan RI. Negara-negara itu, antara lain Inggris, Amerika Serikat, Mesir, Lebanon, Suriah, Afganistan, Birma (Myanmar), Saudi Arabia, Yaman, Rusia, Pakistan, dan India. Negara-negara tersebut lantas membuka perwakilan konsulerdi Negara RI. Kondisi seperti itu telah memperkuat kedudukan RI di mata dunia internasional.

Di dalam negeri, hasil persetujuan Linggarjati disikapi pro dan kontra di kalangan anggota KNIP. Pihak yang pro merasa puas kedaulaatan Indonesia diakui dunia kendati hanya meliputi Sumatera, Jawa, Madura. Sebaliknya, pihak yang kontratetap ingin mengusahakan agar Belanda mengakui RI secara utuh. Pergolakan politik menyangkut perbedaan pendaapat mengenai hasil persetujuan Linggarjati menyebabkan jatuhnya Kabinet Syahrir. Selanjutnya, presiden Soekarno menugaskan Amir Syarifuddin membentuk kabinet baru.

Add comment Maret 11, 2009 ismawardah

Previous Posts

Pages

Categories

Links

Meta

Calendar

November 2009
S S R K J S M
« Jun    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Most Recent Posts