Posts filed under: ‘BUDAYA BANJAR‘




Mata kuliah penelitian(Budaya banjar)

TRADISI “BAAYUN (ANAK)”

Negara Indonesia yang merupakan negara kepulauan yang terdiri atas banyak provinsi yang mempunyai beraneka ragam perbedaan, mulai dari perbedaan suku, ras, warna kulit, bahasa, hingga kebudayaan tiap daerah memiliki kebudayaan yang berbeda-beda dan tentunya memiliki keunikan tersendiri.

Di provinsi kita Kalimantan yang beribu kota Banjarmasin, juga memiliki begitu banyak budaya atau tradisi, mulai dari budaya yang masih dilestarikan hingga sekarang sampai kebudayaan yang sudah mulai di tinggalkan. Salah satu kebudayaan yang ada di Banjarmasin yaitu Budaya atau Tradisi BAAYUN (ANAK) yang hingga zaman sekarang masih dilestarikan sebagian besar masyarakat Banjar. Tradisi Baayun (Anak) ini sudah dilakasanakan oleh masyarakat Banjar sejak zaman dulu hingga sekarang. Tradisi Baayun (anak) ini dilaksanakan ketika anak (Bayi) berusia antara 2 bulan sampai 1 tahun. Baayun (Anak) ini biasanya dilaksanakan diiringi dengan membaca shalawat-shalawat Nabi besar Muhammad SAW yang diirigi dengan musik terbang hadrah.

1) Pelaksanaan Acara BAAYUN (ANAK)

Acara Baayun (anak) ini biasanya dimulai dengan membacakan Shalawat-shalawat nabi besar Muhammad SAW yang diiringi dengan alunan musik terbang hadrah.

Seiring dengan pembacaan shalawat-shalawat tersebut anak (bayi) yang hendak di ayun dimasukkan kedalam ayunan yang berada ditengah-tengah para tamu sampai pada saat pembacaan “asrakal” anak (bayi) baru boleh diankat dari ayunan. Akan tetapi jika anak (bayi) tersebut menagis, boleh diangkat dari ayunan. Dan ketika pembacaan “asrakal” orang tua (ayah) si anak (bayi) mulai melemparkan uang receh di tengah-tengah para tamu untuk di perebutkan oleh para tamu undangan yang berhadir. Selain memperebutkan uang recehan para tamu undangan juga mulai memperebutkan pisang (amas) dan kue beras yang digantung di kedua belah simpul tali (penghubung ayunan dengan tali). Setelah acara rebutan uang receh beserta pisang (amas) dan kue baras selesai, anak (bayi) baru diletakkan kembali kedalam ayunan sambil sesekali di ayun oleh orang tuanya (ayahnya) sampai acara pembacaan shalawat selesai baru anak (bayi) boleh diambil dari ayunan.

2) Pembuatan Ayunan

Ayunan untuk acara BAAYUN (ANAK) ini di buat dengan menggunakan kain panjang sekitar 2,5 meter dan lebar 1,2 meter atau yang disebut tapih bahalai (bahasa banjar) sebanyak 3 lapis. Kedua belah kain tersebut diikat dengan tali yang kuat, dan diantara kedua tali diberi kayu ringan (agar anak tidak mudah terjatuh). Kayu penghubung tersebut diberi hiasan dari kain warna-warni yang di bentuk gelembung-gelembung. Dikedua simpul tali pengikat ayunan diberi hiasan kembang kering yang terbuat dari daun kelapa (ada yang berbentuk cambuk, bunga melati, ular, keris) dan di kedua belah simpul pengikat tersebut djgantung pisang 2 sisir dan kue beras (masing-masing 1 tiap simpul pengikat).

BAAYUN (ANAK) adalah kebudayaan banjar yang patut dilestarikan, karena merupakan ciri khas masyarakat banjar. Semoga saja kebudayaan BAYUN (ANAK) ini tdak akan musnah dimakan zaman dan tetap terus di laksanakan oleh masyarakat Banjar, bukan hanya yang tinggal di pedesaan, tapi juga masyarakat di kota.

Add a comment Desember 5, 2008

BUDAYA BANJAR


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:35.4pt; mso-footer-margin:35.4pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;}

TRADISI “BAAYUN (ANAK)”

Negara Indonesia yang merupakan negara kepulauan yang terdiri atas banyak provinsi yang mempunyai beraneka ragam perbedaan, mulai dari perbedaan suku, ras, warna kulit, bahasa, hingga kebudayaan tiap daerah memiliki kebudayaan yang berbeda-beda dan tentunya memiliki keunikan tersendiri.

Di provinsi kita Kalimantan yang beribu kota Banjarmasin, juga memiliki begitu banyak budaya atau tradisi, mulai dari budaya yang masih dilestarikan hingga sekarang sampai kebudayaan yang sudah mulai di tinggalkan. Salah satu kebudayaan yang ada di Banjarmasin yaitu Budaya atau Tradisi BAAYUN (ANAK) yang hingga zaman sekarang masih dilestarikan sebagian besar masyarakat Banjar. Tradisi Baayun (Anak) ini sudah dilakasanakan oleh masyarakat Banjar sejak zaman dulu hingga sekarang. Tradisi Baayun (anak) ini dilaksanakan ketika anak (Bayi) berusia antara 2 bulan sampai 1 tahun. Baayun (Anak) ini biasanya dilaksanakan diiringi dengan membaca shalawat-shalawat Nabi besar Muhammad SAW yang diirigi dengan musik terbang hadrah.

1) Pelaksanaan Acara BAAYUN (ANAK)

Acara Baayun (anak) ini biasanya dimulai dengan membacakan Shalawat-shalawat nabi besar Muhammad SAW yang diiringi dengan alunan musik terbang hadrah.

Seiring dengan pembacaan shalawat-shalawat tersebut anak (bayi) yang hendak di ayun dimasukkan kedalam ayunan yang berada ditengah-tengah para tamu sampai pada saat pembacaan “asrakal” anak (bayi) baru boleh diankat dari ayunan. Akan tetapi jika anak (bayi) tersebut menagis, boleh diangkat dari ayunan. Dan ketika pembacaan “asrakal” orang tua (ayah) si anak (bayi) mulai melemparkan uang receh di tengah-tengah para tamu untuk di perebutkan oleh para tamu undangan yang berhadir. Selain memperebutkan uang recehan para tamu undangan juga mulai memperebutkan pisang (amas) dan kue beras yang digantung di kedua belah simpul tali (penghubung ayunan dengan tali). Setelah acara rebutan uang receh beserta pisang (amas) dan kue baras selesai, anak (bayi) baru diletakkan kembali kedalam ayunan sambil sesekali di ayun oleh orang tuanya (ayahnya) sampai acara pembacaan shalawat selesai baru anak (bayi) boleh diambil dari ayunan.

2) Pembuatan Ayunan

Ayunan untuk acara BAAYUN (ANAK) ini di buat dengan menggunakan kain panjang sekitar 2,5 meter dan lebar 1,2 meter atau yang disebut tapih bahalai (bahasa banjar) sebanyak 3 lapis. Kedua belah kain tersebut diikat dengan tali yang kuat, dan diantara kedua tali diberi kayu ringan (agar anak tidak mudah terjatuh). Kayu penghubung tersebut diberi hiasan dari kain warna-warni yang di bentuk gelembung-gelembung. Dikedua simpul tali pengikat ayunan diberi hiasan kembang kering yang terbuat dari daun kelapa (ada yang berbentuk cambuk, bunga melati, ular, keris) dan di kedua belah simpul pengikat tersebut djgantung pisang 2 sisir dan kue beras (masing-masing 1 tiap simpul pengikat).

BAAYUN (ANAK) adalah kebudayaan banjar yang patut dilestarikan, karena merupakan ciri khas masyarakat banjar. Semoga saja kebudayaan BAYUN (ANAK) ini tdak akan musnah dimakan zaman dan tetap terus di laksanakan oleh masyarakat Banjar, bukan hanya yang tinggal di pedesaan, tapi juga masyarakat di kota.

Add a comment Desember 5, 2008

UMUM

KEKUATAN PERTAHANAN LAUT KERAJAAN ACEH

A. Latar Belakang

Letak geografis dari Aceh sangatlah strategis, sehingga merupakan pintu gerbang sebelah barat kepulauan Indonesia dan karena letaknya di tepi selat Malaka, maka Aceh sangatlah penting bagi lalu lintas internasional. (Debdikbud, 1997/1978:27). Hal ini menyebabkan Aceh berperan dalam pelayaran antara Negara-negara jauh sebelah barat Aceh. Seperti India, Arab dan Eropa di satu pihak, dan Kamboja, Cina di pihak lainnya. Aceh juga sering dikunjungi oleh kapal-kapal yang berlayar di dua jurusan antara bagian dunia.

Selain karena letak geografisnya yang strategis, Negara-negara besar di Eropa tertarik berkunjung ke Aceh juga karena adanya potensi-potensi ekonomi yang cukup besar dan penting. Aceh terkenal sebagai gudang lada dan pinang di pulau Sumatera (Ibrahimy, 1993;7). Potensi ekonomi yang cukup besar dan sangat penting yang dimiliki oleh Aceh menyebabkan bangsa Eropa berkeinginan untuk berkunjung saja, tapi bangsa Eropa juga berkeinginan untuk menguasai Aceh. Bangsa Eropa ini pada berlomba-lomba berupaya untuk bisa menguasai Aceh dan mengambil potensi-potensi ekonomi di Aceh ini. Namun usaha-usaha bangsa Eropa ini bisa digagalkan oleh Angkatan Laut Aceh yang sangat kuat dan cukup besar.

B KEKUATAN PERTAHANAN LAUT KERAJAAN ACEH

Aceh adalah salah satu-satunya kerajaan di Sumateran yang pernah mencapai kedudukan yang cukup tinggi dalam politik dunia internasional. Aceh juga dikenal sebagai salah satu kerajaan di nusantara yang memiliki angkatan laut yang cukup besar dan sangat kuat (Dr. Ismail, 1980;29). Pada masa kepemimpinan Iskandar Muda, kerajaan Aceh memiliki Armada Laut (angkatan laut) yang diperkirakan memiliki 100-200 kapal. Diantaranya, kapal yang berdiameter 30 meter dengan kapasitas awak kapal 300 sampai 600 orang penumpang dan kapal perang milik Aceh ini dilengkapi dengan 3 buah meriam tiap kapal. (mussim.blogspot.com/2006/10/Datuk Shahalan-di-hasiantar; halaman 1). Aceh juga mendatangkan kapal perang besar, yang juga dilengkapi meriam yang didatangkan dari Turki untuk memerangi orang-orang Eropa yang hendak merebut perdagangan pribumi (Djoened, 1992;96). Aceh juga memperkerjakan seorang Belanda sebagai penasihat militer yang mengenakan teknik perang bangsa Belanda dan Perancis.

Angkatan laut Aceh ini mampu mengalahkan dan menghancurkan banyak pertanahan laut dari kerajaan tetangga, bahkan Aceh juga mampu mengalahkan angkatan laut dari Negara-negara Eropa (seperti: Portugis, Inggris, Belanda) yang selalu berupaya untuk menguasai kerajaan Aceh. Negara-negara besar di Eropa tersebut tertarik pada Aceh karena kedudukannya yang sangat strategis dan banyaknya terdapat potensi-potensi ekonomi yang cukup besar dan penting. Aceh terkenal sebagai gudang lada yang ditanam di daerah pantai barat, dan pinang yang ditanam dipantai utara dan timur (Ibrahimy, 1993;7).

  1. PERTAHANAN KERAJAAN LAUT ACEH DALAM MENGHADAPI MUSUH-MUSUH

a. Pertahanan Laut Kerajaan dalam Menghadapi Angkatan Laut Portugis

Pada pertengahan abad ke-16 Portugis berhasil menduduki Malaka, beberapa kali armada kerajaan Aceh muncul di perairan Selat Malaka guna menghadang armada Portugis langsung pada markasnya di Malaka. Dalam menghadapi armada laut Portugis, Aceh menjalin kerjasama dengan Jepara karena dinilai Jepara cukup kuat sebagai sebuah kerajaan Islam di Jawa dan mempunyai kedudukannya juga strategis dan armada laut Jepara yang cukup tangguh. Pada tahun 1573 Aceh dan Jepara berhasil membentuk suatu persekutuan militer untuk menghadapi armada Portugis.

Ekspedisi armada (angkatan laut) kerajaan Aceh ini berlangsung berulang-ulang kali di selat Malaka. Pada tahun 1575, armada laut Portugis dihancurkan oleh angkatan laut kerajaan Aceh yang digambarkan sebagai kabut hitam yang menutupi Selat Malaka. Ekspedisi yang gemilang diselat Malaka adalah berkat kepahlawanan Laksamana yang memimpinnya ialah raja Maekuta, yang pernah disebut-sebut dalam surat ratu Elisabeth dari Inggris dan dihantarkan kepada Sultan Aceh oleh Sirjames Lancaster pada tahun 1602. (Ibrahimy, 1993;2-3).

b. Pertanahan Laut Aceh dalam Menghadapi Angkatan Laut Kerajaan Cola

Perlahan laut Aceh juga diancam oleh penyerangan yang dilakukan oleh Armada laut kerajaan Cola. Karena kekuatan dan perlawanan sering yang diberikan oleh angkatan laut Aceh dan karena kedudukan Aceh yang strategis yakni pada pintu masuk menuju Selat Malaka, menyebabkan serangan kapal-kapal cola dibawah komando “Raindracola” disungai musi yang nampak berbahaya gagal total dan angkatan laut kerajaan Cola dapat dipatahkan. (Dr. Ismail, 1980; 29).


A. KESIMPULAN

Letak geografis kerajaan Aceh yang sangat strategis dan potensi ekonomisnya yang cukup besar mengakibatkan kerajaan Aceh didatangi orang-orang dari Negara jauh disebelah barat Aceh, bahkan bangsa Eropa berupaya menguasai kerajaan Aceh. Namun upaya bangsa Eropa untuk menyerang dan menguasai kerajaan Aceh selalu gagal, karena kekuatan laut Aceh sangatlah kuat dan besar. Angkatan laut yang berhasil ditaklukkan Angkatan Laut Aceh yaitu Angkatan laut Portugis dan Angkatan laut Cola.


DAFTAR PUSTAKA

Djoened Posponegoro, Marwati dkk. 1992. Sejarah Nasional Indonesia III. Jakarta; Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Gede Ismail, Muhammad. 1997. Pasal Dalam Perjalanan Sejarah (Abad ke-13 Sampai Awal Abad ke-16). Jakarta; Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Debdikbud. 1997/1978. Sejarah Daerah Provinsi Daerah Istimewa Aceh. Jakarta; Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Ismail Suny, Prof, Dr. S.H,M.CL.1980. Bunga Rampai Tentang Aceh. Jakarta; Bhrata Karya Aksara.

Ibrahim, H.M. Nur. El. 1993. Selayang Pandang Langkah Diplomasi Kerajaan Aceh. Jakarta: Grafindo.

http:///www.Glogspot,com/2006/10/Datuk-Sahilan-di-hasiantar;hlm1.

Add a comment Desember 5, 2008

Budaya Banjar “BAAYUN (ANAK)”

kritik dan saran kalian semua sangat diperlukan

Continue Reading Add a comment Desember 5, 2008

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

1 komentar Desember 5, 2008

Halaman

Kategori

Tautan

Meta

Kalender

September 2014
S S R K J S M
« Apr    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Posts by Month

Posts by Category

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.