ETNOGRAFI BANJAR

Maret 11, 2009 ismawardah

FOLKLORE ORANG BANJAR

Kata Folklore merupakan pengindonesiaan dari bahasa Inggris” Folklore. Kata tersebut merupakan kata majemuk yang berasal dari dua kata dasar yakni Folk dan Lore.

Menurut Alan Dundes kata Folk artinya sekelompok orang yang memiliki cirri-ciri fisik, social dan kebudayaan, sehingga dapat dibedakan dari kelompok –kelompok lainnya. Ciri pengenal itu, diantaranya baik berupa warna kulit, bentuk rambut, mata pencaharian, bahasa, taraf pendidikan dan agama yang sama. Sedangkan menurut kamus bahasa inggris- Indonesia, kata Lore artinya adat ( kebiasaan / tradisi) dan pengetahuan atau gambaran tradisi yang dimiliki oleh folk.

Menurut kamus besar bahasa indonesia ( Debdikbud, Balai pustaka, tahun 1990 ), folklore adalah adat istiadat yang diwariskan secara turun temurun, tetapi tidak dibukukan.

Jadi, dapat ditarik kesimpulan Folklore berarti adat (kebiasaan / tradisi) dan pengetahuan atau gambaran tradisi yang dimiliki oleh sekelompok orang yang memiliki cirri-ciri fisik, social dan kebudayaan, sehingga dapat dibedakan dari kelompok –kelompok lainnya. Ciri pengenal itu, diantaranya baik berupa warna kulit, bentuk rambut, mata pencaharian, bahasa, taraf pendidikan dan agama yang sama yang diwariskan secara turun temurun, tapi tidak dibukukan.

Menurut Koentjaraningrat ( dalam bukunya “ Pengantar Ilmu Antropologi”), setiap unsure kebudayaan universal tersebut mempunyai tuga wujud , yakni :

1. Wujud system budaya , berupa gagasan kepercayaan, nilai-nilai norma ilmu pengetahuan dan lain-lain.

2. Wujud system social berupa tindakan social, perilaku yang berpola seperti : upacara, kebiasaan, tata cara dan lain sebagainya.

3. Wujud kebudayaan fisik

Cara pengenalan folklor yang membedakanya dengan sebuah kebudayaan:
Penyebaran dan pewarisannya biasanya dilakukan secara lisan
– Folklore bersifat tradisonal
– folklore memiliki banyak versi bahkan variasi yang sangat berbeda


Seoran ahli dari Amerika Serikat “Jan Harold Brunvand” membagi folklore dalam tiga kelompok besar, yatiu:
1. Folklore lisan adalah folklore yang bentuknya murni lisan.
2. Folklor sebagian lisan adalah folklore yang bentuknya merupakan campuran

unsur lisan dan bukan lisan.
3. Folklor bukan lisan adalah folklor yang bentuknya selain bentuk lisan walaupun

cara pembuatannya di ajarkan secara lisan.
Perkembangan Folklore tidak hanya terbatas pada para golongan petani desa saja tetapi juga para nelayan, pedagang, peternak dan golongan.

Folklore orang banjar yaitu adat (kebiasaan / tradisi) dan pengetahuan atau gambaran tradisi yang dimiliki oleh masyarakat banjar yang memiliki ciri-ciri tersendiri, baik fisik, social dan kebudayaan yang dapat membedakan antara masyarakat banjar ( asli) dengan masyarakat bukan banjar ( asli ), yang diwariskan secara turun temurun, dari masa lampau hingga seakarang dan tidak dibukukan.

Folkore orang banjar tebagi atas, folkore lisan dan folklore non-lisan:

  1. Folklor Banjar Lisan
    1. Hikayat banjar

Menurut Gazali Usman (dalam bukunya ”Urang Banjar dalam Sejarah” Thn 1989 hal. 22), hikayat banjar adalah sebuah manuskrip tua yang telah dikenal di daerah kalimantan selatan dari zaman ke zaman kerajaan banjar. Salah satu hikayat banjar yang sangat terkenal yaitu hikayat putri junjung buih dan pangeran Suryanata. Dalam buku karangannya “ urang Banjar Dalam Sejarah “Drs. A. Gazali Usmar, menyatakan bahwa putri junjung buih dan Pangeran Suryanata merupakan lambang dari kepercayaan kaharingan yakni percaya ada serba dua mengenai alan yaitu membagi alam menjadi dua bagian, alam atas dan alam bawah.

1. Putra junjung buih adalah penguasa alam bawah atau jatap sebagai sebutan harian, ia ditemukan oleh patih lambung mangkurat disungai pada saat ia (patih lambung mangkurat) bertapa Lalu putri junjung buih dijadikan raja di kerajaan diva.

2. Pangeran Suryanata adalah sebenarnya nama local yang disanskertakan. Dalam bahasa Ngaju nama itu adalah raja Tongtong Matandau, kemarohan Tambing kebantaran Bulan yang artinya pangeran matahari atau surya raja bulan atau pangeran matahari, Suryanata atau “ pangeran yang di pertuan matahari”, merupakan wisnu atau penguasa alam atas.

Menurut kepercayaan suku dayak maanyan dan dayak ngaju putri junjung buih mewakili penghuni alam bawah, seperti buaya putih, naga, tambun (sejenis gajah mina), manglung. Binatang-binatang tersebut dipercaya memiliki suatu roh yang mempunyai kekuatan gaib ( kuat ), sehingga banyak masyarakat banjar yang memberi sesaji berupa nasi ketan, berbagai kue, ayam dan lain-lain. Mereka berasumsi bahwa mereka memelihara hewan-hewan tersebut. Sedangkan Pangeran Suryanata mewakili penghuni alam atas, diantaranya burung Elang. Burung Elang dipercaya memiliki suatu roh yang mempunyai kekuatan gaib ( kuat ), Sehingga masyarakat dayak maanyan dan dayak nagaju mempunyai kebiasaan adat memberi makan elang, dengan menaruh beras di tempat yang tinggi.

    1. Bahasa banjar

Menurt kamus besar bahasa Indonesia, bahasa banjar adalah bahasa daerah kalimantan selatan yang dipergunakan oleh suku banjar. Beberapa kata-kata dalam bahasa banjar untuk kata ganti orangberdasarkan tingkatannya:

1)  Ulun = Saya ; ( Sam) Piyan/ ( an), dika = Kamu –>( halus )

2) Aku, diyaku = aku ; Ikam, kawu = kamu –>( netral / sepadan)

3) Unda, sorang =aku ; Nyawa = kamu –> ( agak kasar )

2. Folklore Banjar Non- Lisan

a. Rumah Banjar

Rumah banjar adalah rumah tradisional suku banjar yang

berasitektur

tradisional dengan ciri-ciri mempunyai perlambang,

mempunyai penekanan

pada atap, oriental dekoratif dan simetris.

b. Pakaian adat banjar

Pakai adat masyarakat banjar berupa pakaian kurung yang

identik dengan warna kuning.

c. Kerajinan tangan khas banjar

Kerjinan khas banjar yang terkenal yaitu berupa kain

sasirangan yang dibuat dengan cara di celup.

Rujukan :

1) Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi .PT. Rineka Cita . JakartaL: 2002

2) Drs. A. Gazali Usman, Urang Banjar Dalamn Sejarah, Lambung Mangkurat University Press, Banjarmasin:1989

3) John M. Echols Dan Hassan Shadilly, Kamus Inggris – Indonesia, PT GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA, Jakarta : 2003.

4) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balaipustaka, Jakarta; 1990.

5) Debdikbud, Hikayat Banjar, Museum Lambung Mangkurat, Banjarbaru; 1981.

Entry Filed under: Antropologi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

Maret 2009
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: