Sejarah

Mei 15, 2009 ismawardah

TUMBUH DAN PERKEMBANGANNYA ORGANISASI KOMUNIS

(PKI) DI INDONESIA

A. Awal dari Tumbuhnya Ideologi Komunis di Indonesia

Pada tahun 1913 (menjelang Perang Dunia I), seorang aktivis politik yang berhaluan Marxis berkebangsaan Belanda yang bernama H. J. F. M Sneevliet tiba di Hindia Belanda dari negeri Belanda. Sesampai di Indonesia, ia pada mulanya bekerja sebagai staf redaksi sebuah surat kabar milik sindikat perusahaan gula di Jawa Timur, lalu menjadi sekretaris di Semerangsche Handels Vereninging. Pada saat itu Sneevliet berhasil menanamkan pengaruhnya kedalam organisasi Vereniging Van Spoor en Tramsweg Personeel (VSTP) dan membawanya kearah aktivitas-aktivitas yang radikal yang menyebarluaskan marxisme di Hindia Belanda, antara lain melalui surat kabar VTSP “Devolhasding (Keyakinan)”. Selanjutnya, pada tahun 1914 bersama J.A. Brandsteder, H.W.Dekker dan P. Bergsma, Sneevliet mendirikan organisasi marxis yang pertama di Asia Tenggara dengan nama Indische social Demonratische Vereniging (ISDV) yang berhaluan sosialis (komunis). ISDV berhasil menerbitkan majalah Het Vrije Woord (Suara kebebasan) di Surabaya setahun kemudian sebagai media propaganda Marxisme. Tulisan-tulisan ini menyebarluaskan paham marxisme yang berhaluan sosialis bukan hanya di kalangan diantara merek saja, tapi menyebar ke masyarakat. Bahkan ISDV menyebarkan pengaruhnya ke dalam Sarekat Islam (SI) dengan cara memasukan anggota ISDV menjadi anggota SI dengan sistem “ Keanggotaan Rangkap” (anggota ISDV boleh menjadi anggota SI, begitu juga sebaliknya). Sehingga pada tahun 1917, Sneevliet dan kawan-kawannya telah mempunyai pengaruh yang kuat dikalangan anggota SI. Hal ini menjadikan kedudukan ISDV menjadi makin kuat dan pengaruh komunis makin merajalela di Hindia Belanda, terutama setelah kepemimpinan ISDV diambil alih Semaoen dan Darsono yang berhasil mememcah-belahkan SI.

B. PEMBERONTAKAN KOMUNIS PADA TAHUN 1926

Setelah berhasil menanamkan pengaruhnya di dalam tubuh SI yang cukup besar, maka PKI mulai memanfaatkan pengaruhnya untuk menggerakkan organisasi masa rakyat dengan menggunakan bendera SI untuk melakukan pergolakan fisik melawan pemerintah Hindia Belanda. Upaya PKI ini berhasil mencetuskan pergolakan diberbagai tempat, yaitu pada 12-14 Nopember 1926 di Kerisidenan Jakarta,12 Nopmever sampai 5 Desember  di Banten, 12-18 Nopember 1926 di Priangan, 17-23 Nopember 1926 di Surakarta, 12 Nopember -15 Desmber 1926 di Kediri dan 1 januari-28 Februari 1927 di Silungkang (Sumatera Barat). Namun Pergolakan ini dapat diatasi oleh pemerintah Hindia Belanda dan banyak tokoh komunis-nasionalis yang ditangkap dan di penjarakan, bahkan ada yang dibuang Ke Digul tanah merah (Irian Jaya).

C. Pemberontakan Komunis (PKI) Pada tahun 1948

Di awal tahun 1948, gerakan komunisme mulai gencar dilakukan kembali dengan mendatangkan kembali Muso dan Suripno yang kemudian melakukan pemberontakan di daerah Madiun. Pada 1 september 1948 Comite Central Partai Komunis Indonesia (CC PKI) yang pertama dibentuk dengan Muso sebagai ketua PKI menggantikan Sardjono, sedangkan Politbiro dan MR. Amir Syarifuddin diangkat menjadi sekretaris urusan pertahanan. Selanjutnya para tokoh komunis gencar mengadakan aksi-aksi untuk mendisikreditikan pemerintah Republik Indonesia dan Moso didepan rakyat banyak senantiasa menggembor-gemborkan janji-janji muluk PKI, sedangkan para pegawai pemerintah yang bukan tokoh PKI dijadikan sasaran terornya (Nasution, 1992;21). Aksi-aksi kerusuhan yang dilakukan oleh PKI pada tahun 1948 berikutnya yaitu di Solo, dengan diwarnai aksi penculikan, terror bersenjata dan bahkan pembunuhan. Salah satu korban yang dibunuh yaitu Kolonel Soetarto dan dr. Mawardi di pimpinan barisan banteng yang tidak setuju dengan rencana pemberontakan PKI. Akhirnya, pada 18 September 1948 pukul 03.00 ketika perhatian TNI dan pemerintah RI terpusat ke masalah di Solo, dimulailah pemberontakan PKI di Madiun yang ditandai dengan tiga kali tembakan pistol (Nasution, 1992;22). Akan tetapi, pemberontakan ini dapat di tumpas oleh pasukan TNI pada tanggal 30 September 1948 dan kota Madiun dikuasai pemerintahan RI kembali. Pada tanggal 4 Desember 1948, Pimpinan PKI “MUSO” ditembak mati, lalu beberapa minggu kemudian Mr. Amir, Suripni dan petinggi PKI lainnya juga ditembak mati.

D. Pemberontakan Partai Komunis melalui gerakan 30 September

Setelah pemberontakan PKI pada 30 September 1948 berhasil ditumpaskan dan para pemimpinya banyak yang ditembak mati oelh TNI, organisasi komunis (PKI) masih dibiarkan hidup di Indonesia, walaupun dukungan rakyat telah berkurang dan ada beberapa tokoh pemimpin PKI yang masih hidup. Hal ini menguntungkan PKI, lalu PKI langsung berupaya kembali menyusup ke tubuh TNI (ABRI) dan beberapa tokoh PKI juga mulai berhasil menjadi anggota cabinet pemerintahan RI dibawah Soekarno lewat ide nasakom (nasionalis, agama dan komunis) pada tahun 1962. pada tahun 1965 PKI berupaya melakukan pemberontakan kembali tepatnya pada 30 September 1965. Dalam pemberontakan ini dibentuk biro khusus PKI untuk menjalankan 2 tahap yaitu 1) menyingkirkan para pentinggi AD (Angkatan Darat), lalu menggantinya dengan anggota dari PKI dan merebut pemerintahan RI, serta mengganti dasar Negara Pancasila dan UUD 1945 dengan ajaran komunis (Sodiq Mustafa, 2004:86). Dalam aksi penculikan yang dilakukan oleh PKI pada 1 Oktober 1965 berhasil diculik beberapa petinggi AD, diantaranya Letjen TNI A.Yani, Mayjen TNI (Soeprapto, Mayjen TNI S.Parman, Mayjen TNI Haryono M.T, Berigjen TNI Sutoyo. S, dan Brigjen TNI D.I Pandjaitan, sedangkan jenderal TNI A.H.Nasution berhasil lolos dari aksi penculikan ini. Keenam orang petinggi AD yang berhasil diculik dibawa ke lubang buaya dikalibata. Disini mereka disiksa, dibunuh dan kemudian dibuang kedalam sumur. Untuk menghilangkan jejak, sumur tersebut ditimbun dengan tanah dan sampah, lalu diatasnya ditanami pohon pisang.

E. Penumpasan Aksi Pemberontakan Partai Komunis (PKI) melalui gerakan 30 September

Setelah mengetahui aksi penculikan PKI terhadap beberapa orang petinggi AD, pangkostrad Mayjen TNI Soeharto berkeyakinan bahwa gerakan PKI bertujuan untuk menggulingkan dan merebut kekuasaan dari pemerintah R.I. bersadasarkan keyakinannya ini, Soeharto menggerakan personil markas kostrad dan satuan lainnya di Jakarta yang kontra terhadap PKI. Pada tanggal 1 Oktober 1965 pukul 17.20 studi RRI berhasil di kuasai oleh pasukan RPKAD dibawah pimpinan Soeharto dan kantor besar telkom juga dikuasai. Setelah Soeharto langsung menyampaikan berita tentang pemberontakan PKI dan pembunuhan terhadap beberapa orang petinggi AD. Pada 3 Oktober 1965 setelah mendengar kabar dari Soeharto, presiden Soekarno memberi tugas kepada Soeharto untuk memulihkan keamanan dan ketertiban RI dan Soeharto diangkat sebagai panglima operasi pemulihan keamanan dan ketertiban. Karena merasa keamanan dan ketertiban RI masih terancam bayang-bayang komunis, maka pada tanggal 11 Maret 1966 dikeluarkan surat keputusan yang disebut “Supersemar” oleh Presiden Soekarno yang isinya menyerahkan tampuk kekuasaan RI kepada Soeharto demi keamanan dan keutuhan Negara Republik Indonesia.

Sumber :

  1. Gerakan 30 September ( Pemberontakan Partai Komunis Indonesia). 1994. Sekretariat Negara Republik Indonesia; Jakarta.
  2. Sodiq Mustafa, dkk. 2004. Sejarah untuk Kelas 3 SMA dan MA. Tiga Serangkai; Solo.

Entry Filed under: 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

Mei 2009
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: